Page 63 - combinepdf_Neat
P. 63

Kegiatan Belajar 1
         Framewrok Behavioristik








                Behavioristik merupakan orientasi teoritis yang didasarkan pada premis bahwa psikologi ilmiah harus
         berdasarkan studi tingkah laku yang teramati (observeable behavior). Teori ini berkembang sejak 1913, yaitu
         ketika  John  B.  Watson  mempublikasikan  artikel  yang  cukup  berpengaruh.  Dalam  artikel  tersebut,  Watson

         mengemukakan  bahwa  psikologi  harus  meninggalkan  fokus  kajian  yang  terkait  dengan  proses  mental,  dan
         mengalihkan fokus kajiannya kepada tinggah laku yang nampak (overt behavior). Dia beralasan bahwa psikologi
         tidak dapat meniliti proses mental secara ilmiah, sebab proses tersebut bersifat pribadi dan tidak dapat diamati
         oleh publik.

                Teori Behavioristik merupakan teori belajar yang menekankan peran yang bisa diprediksi lingkungan
         dalam penyebab perilaku yang bisa diamati. Teori ini merupakan teori mekanistik yang menggambarkan perilaku
         yang diamati sebagi respon yang bisa diprediksi terhadap pengalaman. Manusia belajar mengenai dunia dengan
         cara bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang mereka anggap menyenangkan, menyakitkan atau mengancam.

         Jadi  lingkungan  sangat  berpengaruh  dalam  teori  ini. Teori  behavioristik  dengan  model  hubungan  stimulus-
         responnya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku akan semakin kuat
         bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.



                Penekanan teori Behavioristik ada  pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara
         stimulus dan respon. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan / pembiasaan semata.
         Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
         Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan

         menjelaskan tindakan yang diinginkan. Dalam teori ini belajar yang paling penting adalah input yang berupa
         stimulus dan output yang berupa respon.


                Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan

         pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan
         sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga
         dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi
         peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk

         penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.























          Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog.  Intan Puspitasari, S.Psi., MA

           Psikologi Peserta Didik
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68