Page 59 - KUMPULAN_CERPEN_FLIPPING BOOK
P. 59

sudah capek-capek menyuguhkan makanan dan minuman,
            malah enggak disentuh sama sekali,” ujarku sewot.

                    Dia tersenyum.


                    “Saya, kan, menghargai tamu, bukan untuk nyuap,”
            sambungku.

                    Dia masih tersenyum sambil membetulkan kacamatanya

            yang melorot.

                    “Maaf, ya, Mbak  Wita yang baiiik. Mohon maaf yang
            sebesar-besarnya, lho. Tapi, saya harus menghindari hal-hal yang
            bisa menimbulkan dugaan-dugaan gratifikasi. Buat jaga-jaga

            saja, sih, Mbak. Karena saya diberi amanah untuk menjaga kode
            etik institusi. Gitu, Mbak.”

                    Aku terdiam.

                    “Jadi gimana, Mbak? Pesan apa?” tanyanya lagi.


                    “Terserah Mas saja,” jawabku singkat.

                    “Hmmm. Gimana kalau bakso saja, Mbak? Kayaknya enak
            panas-panas begini makan bakso.”

                    “Boleh, Mas,” jawabku singkat lagi.


                    Dia tersenyum.  Wajahnya yang memang ganteng itu
            terlihat paripurna ketika dia tersenyum. Harus diakui kalau Sigit
            yang ada di hadapanku kali ini berbeda dengan Sigit ketika jadi
            auditor di kantorku bulan lalu. Ternyata, ucapan Pak Zaid waktu



                                                        Kumpulan Cerpen  51
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64