Page 389 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 389

IGA Gangga Santi Dewi: Konstruksi Hukum Tentang Ganti Rugi Non Fisik ...     381


                   2) Kebijakan ganti rugi non fisik pada pengadaan tanah yang ditetapkan oleh P2T harus
                      beorientasi pada keadilan substantif dengan landasan hukum progresif berdasarkan
                      Pancasila dan UUDN RI 1945.
                   3) Penafsiran  Pasal  33 huruf  f  UUPT  Tahun  2012 dilakukan  secara  progresif  dengan

                      memasukkan  aspek  sosial,  agama  dan  budaya  dalam  menentukan  bentuk  dan
                      besarnya ganti rugi non fisik.
                   4) Adanya  aturan  yang  jelas  mengenai  transparansi  informasi  hasil  penilaian  dari

                      Penilai  Harga  Independen  (appraisal)  kepada  pihak  yang  berhak  atas  tanah  dan
                      warga  yang  terkena  dampak  kerugian  akibat  pembangunan  untuk  kepentingan
                      umum dalam UUPT Tahun 2012.
                   5) Dasar dalam menentukan bentuk dan kriteria ganti rugi non fisik pada pengadaan

                      tanah  harus  memperhatikan  survei  sosio-ekonomi.  Kriteria  ganti  rugi  non  fisik
                      meliputi :
                      a. Aset yang hilang dan kehilangan manfaat tanah selama ganti rugi belum diterima
                         (akibat pemblokiran tanah).

                      b. Pembentukan kembali lahan yang produktif
                      d. Akses ke pekerjaan.
                      e. Hunian, infrastruktur, dan pelayanan sosial.

                      f. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan
                      g. Perbaikan dan peningkatan mata pencaharian.
                      h. Ganti rugi pengembangan masyarakat.
                      i. Ganti rugi akibat polusi udara dan polusi suara.

                   6) Diaturnya batas validitas hasil penilaian dari penilai independen, dengan waktu 6
                      bulan untuk dinilai kembali apabila uang ganti rugi belum diterima warga.
                   7) Stuktur kepanitiaan pengadaan tanah  untuk kepentingan umum, dalam hal ini P2T
                      jangan hanya yang berasal dari instansi pemerintah saja (Pemerintah Daerah dan

                      Badan  Pertanahan  Nasional)  akan  tetapi  juga melibatkan  dari  tokoh masyarakat,
                      lembaga swadaya masyarakat dan akademisi.
                  Hukum  progresif  berdasar  dari asumsi bahwa  kehadiran hukum bukan  untuk  dirinya

             sendiri,  melainkan  untuk  sesuatu  yang  lebih  luas  dan  besar, itulah sebabnya ketika terjadi
             permasalahan  di  dalam  hukum,  maka hukumlah yang harus ditinjau dan diperbaiki, bukan
             manusianya yang dipaksa untuk dimasukkan ke dalam skema hukum. Dalam konteks penen-
             tuan bentuk dan besarnya ganti rugi non fisik yang berbasis hukum progresif, perlu diwu-

             judkan keadilan progresif. Oleh karena itu, diperlukan perubahan agar dalam praktek dalam
             menentukan ganti rugi non fisik dalam proses pengadaan tanah untuk kepentingan umum
             lebih menekankan pada substansi, sehingga yang dihasilkan adalah keadilan progresif.

                  Metode menuju terwujudnya keadilan substantif dalam penentuan bentuk dan besarnya
             ganti  rugi  non  fisik  dalam  pengadaan  tanah  untuk  kepentingan  umum  tersebut  bisa
   384   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394