Page 453 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 453

Agus Surono: Penyelesaian Permasalahan Ganti Rugi Pengadaan Tanah ...      445


             Permendagri No. 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembe-
             basan  Tanah,  Keppres  No.  55  Tahun  1993  tentang  Pengadaan  Tanah  Bagi  Pelaksanaan
             Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan
             Tanah  Bagi  Pelaksanaan  Pembangunan  Untuk  Kepentingan  Umum  sebagaimana  telah

             diubah dengan Perpres Nomor 65 Tahun 2006, serta terakhir diberlakukan UU Nomor 2
             Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah. Perlindungan hukum dalam pengadaan tanah untuk
             kepentingan umum bagi masyarakat, merupakan usaha-usaha untuk mencegah terjadinya

             sengketa atau sedapat mungkin mengurangi terjadinya sengketa berupa sarana perlindungan
             hukum  yang  preventif  patut  diutamakan  dari  pada  sarana  perlindungan  hukum  represif.
             Pasal  1  angka  2  UU  Nomor  2  Tahun  2012  tentang  Pengadaan  Tanah,  disebutkan  bahwa:
             “pengadaan tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian

             yang layak dan adil kepada pihak yang berhak.” Adapun yang dimaksud dengan kepentingan
             umum  adalah  kepentingan  bangsa,  negara  dan  masyarakat  yang  harus  diwujudkan  oleh
             pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat (Pasal 1 angka 6 UU
             No. 2 Tahun 2012).

                  Perbedaan  yang  sangat  mendasar  dengan  peraturan  pengadaan  tanah  sebelumnya,
             bahwa UU No. 2 Tahun 2012 mencantumkan tujuan pengadaan tanah untuk kepentingan
             umum. Ketentuan Pasal 3 UU No. 2 Tahun 2012, dinyatakan bahwa: “pengadaan tanah untuk

             kepentingan umum bertujuan “menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna
             meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, negara dan masyarakat dengan tetap
             menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak.”
                  Pengadaan tanah untuk kepentingan umum diselenggarakan sesuai dengan: 1) Rencana

             Tata Ruang Wilayah; 2) Rencana Pembangunan Nasional/Daerah; 3) Rencana Strategis; 4)
                                                                    4
             Rencana kerja setiap instansi yang memerlukan tanah.  Apabila pengadaan tanah dilakukan
             untuk infrastruktur jalan seperti jalan tol antar provinsi, maka pengadaannya diselengga-
             rakan berdasarkan Rencana Strategis dan Rencana Kerja Instansi yang memerlukan tanah

             dalam hal ini adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dalam penga-
             daan tanah untuk kepentingan umum diselenggarakan melalui perencanaan dengan melibat-
             kan semua pengampu dan pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU

             No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah.
                  Dalam sistem pengadaan tanah untuk kepentingan umum sebagaimana diatur dalam
             Pasal 2 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah, terdapat beberapa asas-asas dalam
             pengadaan tanah yaitu: asas kemanusiaan, asas keadilan, asas kemanfaatan, asas kepastian,

             asas keterbukaan, asas kesepakatan, asas keikutsertaan, asas kesejahteraan, asas berkelan-
             jutan, asas keselarasan. Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah menyatakan





                4   Tivanya  Nikita  Wangke,  “Pengadaan  Tanah  Bagi  Pembangunan  Untuk  Kepentingan  Umum  di
             Indonesia,” Lex Administratum, Vo. IV/No. 4/Apr/2016, hlm. 126.
   448   449   450   451   452   453   454   455   456   457   458