Page 175 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 175
Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
Boedi Harsono oleh Pak Dekan FH Usakti. Setelah pembacaan riwa-
yat hidup, Pak Dekan FH Usakti melaporkan bahwa atas otori-
tasnya sebagai Dekan FH Usakti sudah dilakukan penamaan
Gedung FH Usakti sebagai Gedung Boedi Harsono. Pak Dekan
mohon restu atas penamaan gedung FH Usakti itu. Secara pelan,
tapi mantap, Pak Rektor mengangguk-anggukkan kepala tanda
setuju. Lalu, penyelimutan peti jenazah almarhum oleh Rektor,
yang didampingi oleh Wakil Rektor Akademik dan Ketua Senat
Universitas dengan Bendera Usakti. Penyelimutan Bendera Usakti
itu pun adalah ekspresi simbolik bahwa Usakti memberikan peng-
hormatan yang setinggi-tingginya kepada almarhum, yang telah
mengabdikan hidupnya sampai akhir hayatnya kepada Usakti.
Setelah disemayamkan di Gedung M, jenazah almarhum disho-
latkan di masjid universitas.
Seusai disholatkan, jenazah almarhum dibawa ke tempat
peristirahatannya yang terakhir di Pemakaman Umum Tanah
Kusir. Di pemakaman itu berbagai kalangan hadir mulai dari
sivitas Usakti, para pensiunan agraria dan pertanahan (Pak Sudar-
yanto, Pak Dirwo, Pak Muchtar Wahid, Pak Soedjarwo), jajaran
BPN Pusat (Pak Joyo Winoto, Pak Managam Manurung, Pak
Wenny, Pak Gde), dan masyarakat lainnya. Setelah dimakamkan
secara Islam, maka dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan
dari yang mewakili keluarga, Rektor Usakti Prof. T Tobis, dan Kepala
BPN RI Joyo Winoto, PhD. Pihak Keluarga menyatakan bahwa
Pak Boedi Harsono meninggal dunia setelah lebih dari satu bulan
dirawat di rumah sakit. Kepada para pelayat pihak keluarga
menyatakan agar jika ada kesalahan atau kekhilafan almarhum
secara langsung maupun tidak langsung, agar para pelayat ber-
kenan memaafkan. Dalam sambutannya yang singkat Rektor
Usakti mengatakan bahwa mengenang Prof. Boedi Harsono adalah
162

