Page 40 - Buku Ajar Praktikum Biokimia 2 Edisi 2
P. 40

1) Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Ness)
Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) telah menjadi bagian umum
dalam praktik pengobatan tradisional di berbagai negara, yaitu Tiongkok, India, dan
Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Prapanza & Luliko, 2003). Struktur morfologi dari
tanaman sambiloto mencakup beberapa ciri khas. Akar sambiloto berwarna putih
kecoklatan dan berbentuk akar tunggang. Batang sambiloto berbentuk persegi empat,
bersifat berkayu, berbuku, dan pangkalnya bulat. Saat masih muda, batang sambiloto
berbentuk segiempat, namun ketika tua, batang ini menjadi bulat dan memiliki banyak
cabang. Tinggi batangnya dapat mencapai 90 cm, tumbuh tegak dengan percabangan
monopodial, dan berwarna hijau. Daun sambiloto ini kecil, berwarna hijau, berbentuk
lanset dengan tepi yang rata. Daun tumbuh tunggal, ujung dan pangkalnya runcing, serta
tepinya rata. Bunga sambiloto berbentuk rangkaian tandan tumbuh pada ujung tangkai.
Bunga ini beraneka ragam, tumbuh diantara tangkai daun dan pucuk tanaman. Bunga
dengan kelopak berbentuk memuncak dibagian atas, terbagi menjadi lima bagian dengan
pangkal yang menempel, berwarna hijau. Buahnya dikenal sebagai buah kotak, memiliki
bentuk yang bulat panjang dengan ujung yang runcing dan alur di tengahnya. Bijinya
berukuran kecil dan bulat, awalnya berwarna putih kusam ketika masih muda, dan
berubah menjadi cokelat saat matang.
Gambar 11 : Daun Sambiloto
Sumber: Laboratorium PKimia FKIP Unsri
Pada sambiloto mengandung beragam zat kimia yang meliputi andrographolide,
laktone, flavonoid, asam kersik, aldehid, mineral, dan alkana. Andrographolide adalah
35












































































   38   39   40   41   42