Page 38 - decode Magz Vol:3
P. 38

    Learning Loss
SOleh: Ganjar Wibowo
aya ingin mengurai refleksi terkait dengan bagaimana kita harus menghadapi per-
soalan belajar mengajar dengan mahasiswa yang secara gampang sering kita sebut ‘’Angkatan Covid-19.’’ Istilah ini merujuk pada mahasiswa yang melewati masa SMA dan sederejat dengan terpaksa ‘banyak libur’ dan belajar di rumah secara daring.
Tantangannya, untuk tidak menyebut sebagai masalah, bukan hanya tentang kecenderungan anak yang seolah tidak terlatih mengatasi masalahnya sendiri sehingga orang tua harus terlibat (atau melibatkan diri) begitu jauh dalam persoalan yang dia bisa dan harus atasi sendiri.
Sejawat dosen, dalam sebuah obrolan menyampaikan pengala- man yang mirip satu sama lain. Bahwa saat ini mereka ‘merasa’ lebih mengeluarkan energi untuk memancing fokus, mendorong para mahasiswa lebih bernalar. Juga terasa terengah-engah membimbing mahasiswa untuk lebih peka, bersikap penuh respek terhadap kelas, dan menunjukkan spirit bahwa kuliah bukan sekadar datang duduk, lalu keluar kelas saat waktu habis.
Ada kecenderungan maha- siswa—tentu tidak semua, ya— kurang menunjukkan antusiasme. Padahal berada di kelas (seha- rusnya) merupakan pilihan sadar dengan konsekuensi jelas: belajar. Berbagai metode dicoba, tapi ge- jala ‘kurang peduli’ makin terasa. Apalagi jika mengajar sekadar ceramah, atau saat teman-teman- nya sendiri presentasi materi. Jika misalnya si dosen tidak berinisiat- if meminta ponsel dikumpulkan,
rak jauh berjalan, para pendidik (guru-dosen) harus mempersiapkan hal-hal berbeda terkait mata kuliah. Waktu belajar mengajar diper- singkat, materi pelajaran tidak tersampaikan dengan baik dan materi pelatihan yang seha- rusnya ada di laboratorium sulit tersampaikan. Para pendidik belakangan mengakui ada gejala learning loss.
Di Indonesia, istilah learning loss mengacu pada kemampuan siswa berpresta-
si yang melemah akibat pandemi Covid-19. Konsepnya, ketidakmampuan belajar sebe- narnya dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti liburan sekolah, absensi dan putus sekolah. Di sisi lain, konsep kehilangan belajar di luar negeri menunjukkan keadaan di mana pengetahuan dan keterampilan siswa hilang atau melemah karena defisit pendidikan atau interupsi terus-menerus.
Sampai di sini, berikut beberapa catatan reflektif sebagai upaya mengatasi learning loss. Pertama, para pendidik jangan sampai kehi- langan fokus dan spirit untuk terus mengem- bangkan kemampuan siswa, mengoptimalkan pembelajaran di kelas dengan menempuh berbagai alternatif metode mengajar.
Kedua, pembelajaran pasca pandemi ber- fokus pada mata kuliah dan keterampilan yang efektif dan bermanfaat bagi mahasiswa untuk menyelesaikan Pendidikan, Dunia Kerja dan Industri (DUDI). Melaksanakan pembelajaran yang bermanfaat dengan tidak hanya memaha- mi materi tetapi juga menekankan makna.
Ketiga, pengembangan kurikulum dan model pengajaran diselaraskan dengan taha- pan normal yang menekankan pemahaman mahasiswa, tidak individualistis, dan harus peka secara sosial.
Keempat, deep learning dapat dipahami sebagai proses di mana seseorang mampu menggunakan apa yang dipelajarinya dalam situasi tertentu dan menerapkannya pada situ- asi baru (pasca pandemi) atau sebagai sebuah transformasi.
Dan terakhir, tool knowledge (pengeta- huan keterampilan) diperlukan untuk dapat mencari dan memperoleh informasi baru secara mandiri. Pengajar/dosen berperan sebagai pendamping dan pemberi motivasi bagi mahasiswa untuk meningkatkan kuali- tas pembentukan sikap dan karakter pribadi mahasiswa.
Konsep learning loss tidak hanya terkait dengan unsur teknologi informasi, tetapi juga memerlukan kurikulum yang disesuaikan dengan realitas saat ini. Kampus juga harus memungkinkan mahasiswa menggunakan kebebasan untuk mengejar ilmu, bukan hanya untuk mengejar nilai dan tujuan. Salam.
mudah ditebak apa yang terjadi. Mungkin ini hanya kasus.
Saya tidak berpretensi menggen- eralisasi tanpa data yang diperoleh melalui proses ilmiah dan holistik. Tapi dalam konteks ini misalnya, tidak sedikit yang mengatakan bahwa gejala yang disebutkan
di atas sebenarnya sudah terasa dalam beberapa tahun terakhir, sejak media daring, khususnya media sosial sedemikian mengua- sai kehidupan sehari-hari kita. ‘’Hanya saja memang, jadi lebih terasa setelah pandemi Covid-19,’’ kata seorang dosen.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bagaimana caranya menghadapi situasi ini? Untuk pertanyaan inilah saya membuat catatan ini. Dan kita harus lebih banyak membuat urun rembuk untuk bergulat dengan fenomena ini, tampaknya.
Harus diakui, pembelajaran jarak jauh memang membawa dampak tidak sedikit. Banyak riset menunjukkan bahwa kemam- puan belajar dan bersosialisasi siswa-mahasiswa mengkhawatir- kan karena situasi ini.
Sebagian sebabnya, bukan saja kendala efektivitas belajar. Tapi juga karena di awal-awal pandemi Covid-19 melanda, lembaga-lembaga pendidikan di Tanah Air mayoritas sama sekali tidak siap menghadapinya. Butuh waktu tak sedikit untuk membuat proses belajar jarak jauh benar-be- nar berjalan. Di beberapa daerah, sampai pandemi mulai mereda bahkan peran teknologi belajar tetap tidak dirasakan. Artinya, siswa dan guru lebih banyak libur ketimbang belajar.
Pun ketika pembelajaran ja-
  38 decode magazine
*)penulis adalah pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi/ FISIP UAI.










































































   36   37   38   39   40