Page 242 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 242
Hendra Zainuddin | Merintis dan Mengasuh Pesantren Sejak Muda
Dengan berbekal uang seadanya, Ustadz Hendra memilih pon-
dok pesantren Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah, di bawah bimb-
ingan KH. Hamam Ja’far. Ia hanya satu tahun di pondok pesant-
ren ini. Atas ajakan kakaknya, ia pindah ke pondok pesantren
al-Amien Prenduan Sumenep Madura dibawah bimbingan KH.
Muhamad Idris Jauhari.
Bertekad Rintis Pesantren untuk Atasi Buta Huruf
Setelah menamatkan pendidikan dari Pondok Pesantren al-
Amien Prenduan Sumenep, Madura, ia mengabdikan dirinya
sebagai ustadz di Pondok Pesantren al-Mujahidin, Marabahan,
Barito Kuala, Kalimantan Selatan milik KH. Asqolani. Hanya
dua tahun ia di Pondok Pesantren al-Mujahidin. Pada 1995, ia
pulang ke Palembang dan mengabdikan diri di Pondok Pesant-
ren Sultan Mahmud Badaruddin II Talang Jambe. Di pesantren
yang waktu itu dipimpin H. Muhtarom ini, ia banyak bergaul
dengan berbagai kalangan, termasuk para pimpinan pondok pe-
santren di kota Palembang, dan pejabat daerah lainnya.
Karena ia sangat concern dengan kehidupan dunia pesantren,
maka di usia 22 tahun, ia telah berani mendirikan pondok pe-
santren. Karena keinginan yang kuat dalam dirinya, ia mencari
lokasi yang bagus untuk mendirikan pondok pesantren. Mencari
lokasi yang bagus untuk mendirikan pondok pesantren tidak-
lah mudah, sehingga “perburuan” lokasi sampai ke Ogan Ilir,
Banyuasin, dan daerah lainnya.
Gayung bersambut, di tengah pencarian lokasi pondok pesant-
ren, Ustadz Hendra bertemu dengan H. Djemain yang dikenal
kaya dan memiliki tanah yang luas di wilayah Gasing. Akhirnya,
H. Djemain menghibahkan tanah untuk mendirikan pondok pe-
santren yang bernama “Pondok Pesantren Inayatullah Gasing”.
| 228

