Page 275 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 275
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
sih terpengaruh minuman keras. Ada juga, orang tua calon santri
yang datang kemari menyampaikan keinginannya agar anaknya
bisa menjadi santri di sini, tapi anak yang bersangkutan masih
berada di Lembaga Pemasyarakatan,” ujar Pak Heri, begitu ia
biasa dipanggil.
Pak Heri menerima mereka, menerima tanggung jawab untuk
mendidik mereka, untuk mengasuh dan “memelihara” mereka,
tanpa berharap imbalan materi sekecil apa pun. Mereka semua
diterima sebagai santri tanpa dipungut biaya sama sekali.
“Ya, mereka bisa nyantri di sini, gratis. Kalo perlu bisa juga
sambil bekerja di unit-unit kerja pesantren atau di luar pesantren
dan bisa kirim uang ke orang tua mereka di rumah,” ujarnya.
Pondok Pesantren Lintang Songo memang ditopang keber-
langsungannya dengan banyak unit usaha/kerja yang melibatkan
santri dan warga masyarakat sekitar pesantren, sehingga pada
gilirannya pesantren ini tidak hanya berguna bagi santri tapi juga
bagi masyarakat di sekitar pesantren khususnya dan bagi mas-
yarakat luas pada umumnya.
Tumbuh di Lingkungan Pendidikan Muhammadiyah
K.H. Heri Kuswanto tidak pernah secara khusus menimba ilmu
agama dengan menjadi santri di pondok pesantren tertentu. Tapi
sebagai anak pertama (dari enam bersaudara) pasangan KH.
Muhammad Zaidan dan Hj. Sajinem, ia tumbuh dan besar di
lingkungan keluarga santri dan religius di kampung Munggur,
Srimartani, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.
Tak ada Taman Kanak-kanak di kampungnya, Heri kecil memu-
lai pendidikan formalnya di SD Kembangsari, Piyungan, Bantul.
| 261

