Page 371 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 371
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
bisa lepas dengan kata ”mengaji” dari dalam hidupnya. Hampir
setiap musim liburan, Taufiq selalu pergi menghabiskan waktu
bersama sahabat – sahabatnya di sejumlah pesantren terkenal di
Kota Gudeg itu.
Di antaranya Ponpes Mbah lim yang bernama pesantren Panca
Sakti di Klaten, pernah juga berkunjung di Pondok Pesantren
Al-Munawwir Krapyak dan terakhir di Pondok Pesantren Lir-
boyo, Kediri.
“Itu semua menambah wawasan saya bahwa pola pendidikan di
pondok pesantren punya ciri-ciri berbeda, masing-masing punya
kelebihan dan kekurangan,” katanya.
Saat di Yogyakarta pula, Taufiq lebih memahami nilai toleransi.
Dasar epistimologi inilah yang menggerakkan dirinya untuk ter-
libat dalam aksi kemanusiaan dan aksi sosial.
Setelah pendidikannya selesai, ia mulai berkarir di Mahkamah
Agung membantu kasus-kasus bersama teman-temannya. Di ta-
hun yang sama, ia ditawari magang di Kedubes Belanda, namun
hal itu ditolak dikarenakan ayahanya tidak ingin ia pergi jauh.
Apalagi Ibunda Taufiq, pada tahun 2002 telah terlebih dahulu
meninggal dunia. Hingga akhirnya ia memilih pulang ke Makas-
sar, kampung halamannya.
Karier Nur Taufiq Sanusi tidak hanya sampai di situ, di tahun
2009 ia menjadi tenaga pengajar di Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar (UIN). Karena ayahnya melihat potensi
Taufiq yang memadai dan juga didukung oleh pendidikan yang
tinggi, ayah Taufiq memberi saran agar membantu memperbaiki
Kampus NU di Makassar, Universitas Islam Makassar (UIM)
Al-Gazali. Ia pun diperbantukan di sana pada tahun 2010.
| 357

