Page 35 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 35
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 35
Hanya tiga bulan setelah gempa antenna GPS, sehingga alat penerima
26 Desember 2004, terjadi lagi gempa data GPS (“receiver”) mencatat jarak
megathrust segmen Nias-Simelue, yaitu antara antenna dengan satelit-satelit yang
pada tgl 25 Maret 2005 dengan kekuatan tertangkap sinyalnya. Posisi dari satelit-satelit
Mw 8.7. Uniknya, gempa 2005 kembali tersebut setiap saat dapat diketahui dengan
mengangkat Pulau Simelue namun sekarang sangat akurat, sehingga posisi dari lokasi
bagian selatannya yang terangkat sampai GPS setiap saat dapat diketahui. Dengan
1.5 meter (Gambar 15). Jadi bagian selatan cara ini maka besarnya laju dan arah dari
Pulau Simelue tidak ikut terangkat ketika pemampatan kerak (tekanan tektonik) pada
gempa tahun 2004, tapi terangkat ketika saat sebelum gempabumi dapat dihitung.
gempa tahun 2005. Sehingga akhirnya Demikian juga apabila terjadi gempa maka
kombinasi dua gempa tahun 2004 dan 2005 besarnya pergerakan dari lokasi GPS dapat
mengangkat seluruh Pulau Simelue dari diketahui. Orang dapat juga mengukur
ujung utara sampai selatan secara merata pergerakan dengan cara mengukur titik-titik
sebesar 1.5 meter. monument geodesi yang telah dipasang di
Dokumentasi besarnya pengangkatan dan berbagai lokasi dengan peralatan mobile
penurunan tanah ini dibuat berdasarkan GPS. Dengan cara ini maka orang dapat
pengukuran teliti dari posisi koral-koral menghitung besarnya pergerakan pada
berjenis koral masif mikroatol sebelum dan waktu gempa, yaitu jarak dari titik monument
setelah gempa. Koral ini dapat dipakai untuk sebelum dan setelah gempabumi.
mengukur besar perubahan muka laut (akibat Di Pulau Nias, gempa 2005 mengangkat
gempa) karena bagian pertumbuhannya bagian pantai barat Nias sampai 3(tiga)
sangat sensitif terhadap perubahan muka meter (Gambar 18 Pelabuhan Sirombu
airlaut. Batas atas pertumbuhan koral jenis termasuk yang terangkatsampai 3 meter
ini tidak dapat melebihi tinggi air laut surut sehingga setelah gempa pelabuhan ini
paling rendah dalam setahunnya. setelah sudah tidak bisa berfungsi lagi (Gambar
permukaan koral mikroatol mencapai batas 19). Namun pantai timur Nias, termasuk
airlaut maka akan tumbuh ke samping. Jadi Kota Gunung Sitoli, tidak mengalami
pada prinsipnya kita besar pengangkatan pengangkatan, bahkan wilayah di lebih
atau penurunan diukur dari beda tinggi ke timurnya lagi sebaliknya mengalami
rekaman jejak muka laut pada koral sebelum penurunan atau penenggelaman seketika.
dan setelah gempa (Gambar 16). Kondisi ini menyebabkan wilayah Pulau
Selain dari koral mikroatol dan citra Nias seperti menjungkit searah jarum
satelit, pergerakan mukabumi ini juga jam dengan sumbu putar di pantai
terekam di statsiun-statsiun GPS (kontinyu) timur Nias terus ke utara melewati selat
(Gambar 17). Alat GPS ini dapat merekam antara Pulau Bangkaru dan P. Banyak
pergerakan bumi dari titil lokasi antenna (Gambar 20). Wilayah yang yang termasuk
GPS dengan sangat akurat (ketelitian sub- mengalami penurunan akibat gempa
mm pertahun). Prinsipnya, sejumlah satelit adalah Desa Haloban dan Pulau Bale
GPS yang mengitari bumi memancarkan yang turun mendadak masing-masing
gelombang yang dapat ditangkap oleh sebesar 70 centimeter dan 100 centimeter,

