Page 264 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 264
246 Toponim Kota Yogyakarta
1. Penamaan kampung berdasarkan nama kerabat istana atau pangeran yang tinggal
di sekitar wilayah di luar Keraton. Pada zaman dahulu, suatu kelaziman jika para
pangeran atau kerabat raja diberi tanah di luar Beteng Keraton. Pangeran atau
kerabat itu masing-masing mendirikan tempat tinggal sendiri semacam small
palace di daerah yang sudah diberikan. Pangeran atau kerabat tersebut beberapa
mengizinkan warga untuk tinggal di daerah tersebut, hingga tumbuh menjadi
pemukiman warga. Pemukiman ini terus berkembang hingga terbangun suatu
komunitas masyarakat dan memiliki batas-batas wilayah. Kemudian nama pangeran
atau kerabat itu akan dijadikan nama kampung mereka sebagai wujud penghormatan
dan terima kasih kepadanya. Contohnya antara lain Suryodiningratan yang
merupakan daerah kediaman Pangeran Suryodiningrat, Pugeran yang merupakan
tempat tinggal Pangeran Puger, dan Suryatmajan merupakan tempat tinggal
Pangeran Suryaatmaja.
2. Penamaan kampung berdasarkan profesi orang-orang yang tinggal di kampung
tersebut. Pada zaman dahulu, Sultan menempatkan orang-orang dengan profesi
yang sama dalam satu wilayah, gunanya untuk mengoptimalkan pekerjaan dan
memudahkan kebutuhan di pusat pemerintahan. Contohnya Kampung Pesidenan
yang merupakan tempat tinggal para penyanyi Keraton yang bertugas menembang
pada acara-acara istana, kampung Pajeksan yang merupakan tempat tinggal para
jaksa, dan Kampung Kauman di sekitar Masjid Agung Mataram yang merupakan
tempat tinggal para pemuka-pemuka agama Keraton.
3. Penamaan kampung berdasarkan nama laskar atau bregada atau kompi prajurit
Keraton. Contohnya Kampung Jogokaryan tempat Laskar Jogokaryo tinggal,
kampung Dahengan tempat Laskar Daheng tinggal, dan kampung Mantrijeron
tempat Laskar Mantrijero tinggal (Soetarjo, wawancara, 2019).
G.B.P.H. Suryodiningrat, putra Sri Sultan Hamengku Buwana VII ini dilahirkan
dari ibunda BRAy Retno Juwito, seorang penari bedoyo. Pangeran Suryodiningrat
adalah seorang yang tekun belajar bahasa asing, psikologi, pendidikan politik, karena
didorong oleh kesadaran kemajuan zaman agar tidak tertinggal oleh putera-putera
yang bersekolah. Atas penguasaan bahasa Belandanya, ia diangkat menjadi ambtenaar
controleur van agrorische zaken dengan gaji 500 gulden/bulan, disamping gaji pangeran
(Keluarga Keraton) sebesar 1000 gulden dan honor karya tulisnya di berbagai majalah

