Page 266 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 266

248         Toponim Kota Yogyakarta












                             Suryodiningratan sebelum tahun 1960-an belum begitu beragam dan kurang
                             berkembang. Pada dasarnya, kebanyakaan penduduk bekerja sebagai petani, menggarap
                             lahan orang lain, atau mengerjakan apapun demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
                             Kondisi tanah di daerah itu tidak terlalu gembur, namun cukup subur untuk ditanami
                             sawah kecil, pohon kelapa atau kebun milik perorangan. Eyang Harjo seorang guru
                             yang mengajar sejak tahun 1958, mengaku bahwa pendapatannya sebagai guru masih
                             kurang mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarganya. Beliau kemudian melakukan
                             koordinasi dengan berbagai pedagang sepeda untuk mendirikan pasar  sepeda dan
                             mendapat tambahan dari posisinya sebagai kepala dagang pasar sepeda di daerah itu.


                             Pasca 1960-an setelah penduduk Suryodiningratan mengenal prinsip koperasi, muncul
                             koperasi-koperasi batik. Batik pada saat itu mendapat permintaan yang cukup tinggi
                             dari kalangan rakyat ekonomi menengah ke atas dari berbagai daerah, sehingga para
                             pemilik koperasi batik di Suryodiningratan menjadi golongan penduduk kaya raya.

                             Kondisi keagamaan dan kepercayaan di Suryodiningratan sangat beragam, dari Hindu-
                             Jawa, Islam, Katolik, dan Kristen. Eyang Harjo berkata bahwa selama ia tinggal di
                             Suryodiningratan, tidak pernah mengalami  diskriminasi ataupun kerusuhan karena
                             masalah  keagamaan atau kepercayaan. Beliau  juga mengatakan bahwa penduduk
                             Suryodiningratan kebanyakan adalah etnis Jawa, dan bukan daerah dengan kelompok
                             pendatang, sehingga minim terjadi sengketa karena perbedaan.


                             Ketika bercerita tentang Agresi Militer II, Eyang Harjo mengiyakan bahwa Kampung
                             Suryodiningratan turut dikepung Belanda. Beliau menjelaskan asal muasal penamaan
                             Gang Gerilya (menuju ke rumahnya). Menurut cerita eyang, daerah yang sekarang
                             dibangun rumahnya, dahulu merupakan kebun-kebun dan sawah-sawah, dan “Gang
                             Gerilya” adalah jalan setapak yang pernah dilewati oleh pasukan gerilya. Eyang Harjo
                             tidak  ikut pasukan  itu karena tugasnya  adalah  sebagai seorang  tenaga  pendidik –
                             yang pada saat itu masih sangat dibutuhkan karena kurang tersedianya pribumi yang
                             berpendidikan tinggi. Hingga kini, beberapa gang diberi nama-nama penduduk yang
                             berjasa dalam gerakan melawan penjajah dan kolonialisme kolonial Belanda dan Jepang.
                             Contohnya Gang Tohpati, dan Gang Suparman.

                             Sebagai tenaga pendidik, Eyang Harjo memiliki perhatian dan peran besar bagi kegiatan
                             kesenian penduduk. Beliau menyukai olahraga dan menjadi guru olah raga dan beladiri
   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271