Page 265 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 265
Toponim Kota Yogyakarta 247
dan surat kabar. Ia pernah memimpin organisasi perjuangan rakyat desa Pakempulan
Kawula Ngayogyakarta (PKN) sejak tahun 1930 hingga menjelang wafatnya ditahun
1960.
G.B.P.H Suryodiningrat memperoleh didikan menari di Keraton sejak masa kanak-
kanak dalam tari Bedoyo. Bersama G.B.H Tedjokusumo mendirikan Kridha Beksa Wirama
pada tanggal 17 Agustus 1918. Sekitar tahun 1926, Gusti Pangeran Suryodiningrat
mendirikan Pamulangan Pedhalangan Habirandha, dan membuat patokan pewayangan
gaya Yogyakarta.
Pada kisaran tahun 1925-an, Gusti Pangeran Suryodiningrat mulai mengembangkan
tari-tari topeng dengan mensubsidi kegiatannya. Beliau mengkhawatirkan kepunahan
tari topeng rakyat di zaman Malaise perang dunia pertama. Tari Topeng kemudian
banyak ditampilkan dengan lakon-lakon Panji dan sejarah Jenggala dan Kediri, serta
penampilan topeng Tar-Tar, sebagai suatu adengan di zaman Kertanegara. Beliau juga
mematahkan larangan putri-putri kalangan atas belajar menari, yang pada masa itu
dianggap merendahkan martabat wanita karena pencemaran, dengan cara mendidik
putri-putrinya sendiri menari dan mementaskannya.
Dalam perjuangan politik peranannya cukup besar antara lain: memimpin rakyat
pedesaan, berhasil mengayomi rakyat kecil pedesaan, mendidik rakyat demi
pemberantasan buta huruf. Beliau berhasil mengangkat rakyat yang dipimpinnya
menduduki kursi pemerintahan, serta perwakilan di MPRS, Parlemen, Konstituante,
Badan Pemerintah Harian, DPRD. Beliau menerima piagam penghargaan seni Wijaya
Kusuma dari pemerintah Republik Indonesia berkat ketokohannya dalam seni budaya.
Peran Gusti Pangeran Suryodiningrat di bidang politik dan budaya yang masih dapat
dilihat hingga saat ini ialah Palang Putih Nasional. Paguyuban penghayat kepercayaan
ini baru muncul tahun 2000, namun gagasan awalnya berasal dari Gusti Pangeran yang
sangat mengerti dan peduli dengan keadaan rakyatnya. Didirikannya paguyuban ini
bertujuan untuk mewadahi rakyat dan memperjuangkan hak rakyat yang menganut
kepercayaan lokal spiritual Jawa, yaitu ajaran Kejawen Urip Sejati yang diwariskan
oleh gusti pangeran. Ajaran ini menjaga wahyu yang mengajarkan bagaimana manusia
seharusnya hidup dan bertuhan (Suroso, wawancara, 2019).
Menurut penuturan Eyang Harjo, keadaan sosial dan ekonomi masyarakat

