Page 328 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 328

310         Toponim Kota Yogyakarta












                             Kampung Serangan merupakan sebuah perkampungan penatah keris yang telah dikenal
                             sejak dahulu hingga sekarang. Toponimi Kampung  Serangan bertalian  erat dengan
                             keberadaan para penatah keris yang tinggal di kampung ini. Menurut Poerwadarminta
                             (1939), keris merupakan gêgaman landhêp mawa wrangka lan ukiran atau senjata tajam
                             dengan rangka dan ukiran. Salah satu fungsinya ialah sebagai senjata untuk menyerang
                             dalam sebuah duel atau pertempuran, seperti yang tergambar dalam penggalan berjudul
                             “Dongeng Panji” (Kejawen 1940, Jilid 2, No. 64, Tahun XV, 9 Agustus 1940) berikut ini:

                                 “… Raja Mataun nantang pêrang tandhing ana ing lêmah, anggar nganggo kêris,
                                 iya diladèni. Wusana Ratu Mataun disuduk nganggo kêrise Klana Jayèngsari jênêng
                                 Kalamisani, ambruk, mati sanalika. Surake bala kaya jumêguring gunung njêblug.
                                 Wadyabala Mataun padha mlayu pating kêdanda. …”

                             Terjemahan  bebasnya: “…  Raja Mataun menantang perang tanding di  bumi, tangkis-
                             menangkis dengan keris, ya dituruti. Akhirnya Ratu Mataun diterjang dengan kerisnya Klana
                             Jayèngsari yang bernama Kalamisani, jatuh tewas seketika. Sorakan prajurit seperti gemuruh
                             gunung meletus. Laskar Mataun berlarian tunggang-langgang. …”

                             Dari sejarahnya, keris telah  digunakan  sejak berabad-abad  yang  lalu. Keris disebut
                             sebagai tosan aji (tosan= besi, aji=memiliki nilai atau harga) atau besi yang bernilai/
                             berharga. Keris menduduki posisi yang terhormat dalam kehidupan masyarakat Jawa
                             klasik. Tak jarang keris-keris ini diberi nama tersendiri sebagai wujud penghormatan,
                             misalnya Kangjeng Kiai  Ageng Kopek, Kangjeng Kiai  Joko Piturun, Kiai  Ageng
                             Bondoyudo, dan sebagainya. Selain sebagai alat perang atau duel melawan musuh, keris
                             juga menjadi bagian dari pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun, kelengkapan
                             busana, simbol status, pemberi kewibawaan, perlengkapan dalam upacara adat, dan
                             salah satu dari lima syarat kelengkapan bagi seorang laki-laki Jawa (curiga atau keris,
                             wisma atau rumah, turangga atau kuda, wanita atau istri, dan kukila atau burung).


                             Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi keris mulai pudar. Pengetahuan dan
                             keahlian mengenai pembuatan dan penatahan keris pun perlahan hilang. Namun, di
                             Kampung Serangan ini masih dapat dijumpai bengkel penatahan keris yang merupakan
                             warisan dari beberapa generasi di atasnya. Di kampung ini keris-keris lama disulap
                             menjadi baru. Proses pengerjaannya dilakukan secara tradisional yang memakan waktu
                             hingga  berbulan-bulan. Hingga  kini, Kampung  Serangan  dikenal  sebagai kampung
   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333