Page 331 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 331

Toponim Kota Yogyakarta   313











                  2. Kampung Notoprajan


                  Secara administratif Kampung Notoprajan berada di Kelurahan Notoprajan (Kecamatan
                  Ngampilan) dan dibatasi oleh Kampung Kadipaten di sisi selatan, Kampung Suronatan
                  di sisi timur, Kampung Serangan di sisi barat, dan Kampung Ngadiwinatan di sisi utara.
                  Nama Kampung Notoprajan diambil dari nama Kangjêng Pangeran Adipati Kolonèl
                  Natapraja (Pangeran Natapraja I), putra dari Kangjêng Pangeran Arya Mangkudiningrat,
                  yang pernah mendiami daerah ini. Dalam Sêrat Dasanamajarwa (Sastranagara, 1913),
                  natapraja bermakna menata negara (têgêsipun anata nagari). Sosoknya disebutkan dalam
                  beberapa literatur Belanda dan Jawa tentang Perang Jawa, diantaranya De Java-Oorlog
                  van 1825-1930: Vierde Deel (Louw, P.J.F., dan E.S. de Klerck, 1905: 376, 418, & 549)
                  dan Punika Sêrat Babad Ingkang Sinuhun Kaping Gangsal Kaping Nêm Saha Kramanipun
                  Dipanagaran, 1861 (Suradikrama, 1930: 82, 95, 100-1, 103-5, 107-9)


                  Kediaman Pangeran Natapraja I  atau yang disebut Dalem Nataprajan/Notoprajan
                  dibangun di atas lahan seluas 1,8 hektar dengan arsitektur tradisional Jawa dan mengikuti
                  orientasi kosmologis selatan-utara Keraton Yogyakarta. Berdasarkan Plattegrond van de
                  Hoofdplaats Jogjakarta omstreeks 1830 koleksi KITLV dapat diketahui bahwa setidaknya
                  kompleks kediaman Pangeran Natapraja I ini telah ada pada tahun 1830. Wilayah di
                  sekeliling dalem Notoprajan oleh masyarakat kemudian dikenal dengan nama Kampung
                  Notoprajan.

                  Setelah wafatnya Pangeran Natapraja I, Dalem Notoprajan diwariskan kepada putranya,
                  yakni Kangjêng Pangeran Arya Mayor Natapraja (Pangeran Natapraja II). Sepeninggal
                  Pangeran Natapraja II, dalem ini didiami oleh GRA Maduretna (putra dari Sri Sultan
                  Hamengku Buwana VII) hingga akhir hayatnya. Selanjutnya pada tahun 1946 Dalem
                  Notoprajan  ditempati GBPH Hadiwijaya, putra  angkat GRA Maduretno, sehingga
                  disebut juga dengan Dalem Hadiwijayan. Dalem ini pernah digunakan sebagai kantor Sri
                  Sultan Hamengku Buwana IX serta tempat pertemuan dengan Presiden Soekarno dan
                  dengan Letnan Kolonel Soeharto sebelum peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Dalam
                  perkembangannya, Dalem Notoprajan telah mengalami beberapa kali perubahan fungsi.
                  Dalem ini pernah digunakan sebagai gudang dan pabrik rami, tahun 1945-1971 dipakai
                  untuk asrama mahasiswa UGM, tahun 1973-1983 digunakan untuk gedung KONRI
                  (Konservatori Tari), dan sejak bulan  Mei 1984 ditempati Kantor  Bidang Kesenian
                  Depdikbud DIY (Gupta, 2007: 64). Saat ini Dalem Notoprajan telah ditetapkan sebagai
   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336