Page 334 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 334
316 Toponim Kota Yogyakarta
3. Kampung Suronatan
Nama Kampung Suronatan berasal dari kata suranata. Dalam kamus Bausastra Jawa
(Poerwadarminta, 1939), suranata merupakan abdi dalem mutihan di keraton (abdi-
dalêm mutihan ing keraton). Mutihan atau putihan adalah mereka yang benar-benar
menjalankan agama dengan lurus, seperti para ulama atau kyai. Lawan kata dari mutihan
adalah abangan, yaitu mereka yang tidak menjalankan agama. J.F.C. Gericke dan T.
Roorda dan Javaansch-Nederduitsch Woordenboek (1847) menyebut kata “suranata” yang
merupakan nama korps prajurit yang terdiri dari para ulama (naam van een korps soldaten,
dat uit Priesters bestaat), dan kata “suranatan” yang merupakan tempat pertemuan para
Suranata, sebuah bangunan di dalam tembok benteng utara keraton (de vergaderplaats
der Soerå-nåtå’s, een gebouw binnen den ringmuur ten noorden van de Keraton). Dari kedua
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Suranata merupakan kesatuan prajurit
keraton yang terdiri dari para ulama atau abdi dalem mutihan keraton.
Dari sejarahnya, di Kampung Suronatan dahulu tinggal para Suranata. Tugas dari
para Suranata disamping sebagai korps prajurit juga bertugas sebagai ulama keraton
yang berkecimpung dalam urusan-urusan keagamaan. Menurut arsip-arsip sebelum
Perjanjian Giyanti, naskah no. 1 tentang pembagian wilayah kerajaaan, struktur birokrasi
dan nama-nama kesatuan prajurit, disebutkan bahwa Sultan Agung, raja Mataram Islam
di Kotagede, juga telah menata abdi dalem prajurit Suranata yang tugasnya menyiapkan
sujudan (sajadah), tesbeh (tasbih), pasalatan (tempat untuk sholat) (Priyono, 2015: 121;
Gupta, 2007: 79).
Sekarang jejak-jejak keberadaan para Suranata di kampung ini sudah tak ada lagi.
Namun demikian, nuansa keagamaan yang kental masih terasa. Hal ini terlihat dari
banyaknya gedung atau bangunan Muhammadiyah dan Masjid Taqwa Suranatan yang
masih hidup hingga kini.

