Page 339 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 339

Toponim Kota Yogyakarta   321











                  antara Pangeran Natakusuma dengan pemerintah Inggris sehingga tanggal 17 Maret
                  1813 inilah kemudian dipakai oleh Raja Pakualam selanjutnya sebagai tanggal kelahiran
                  Kadipaten Pakualaman  (Pradnyawan, 2015: 28). Sebelum diangkat menjadi raja
                  pertama Kadipaten Pakulaman, Pangeran Natakusuma berstatus Pangeran Miji dan
                  tinggal di wilayah sebelah timur Kali Code yang dikenal dengan Kampung Natakusuman.
                  Kampung tesebut kemudian diberi pagar keliling yang pada akhirnya menjadi benteng
                  dan menjadi ibu kota ketika dibentuk pemerintahan Kadipaten Pakualaman (Panitya
                  Peringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun, 1956: 24-25). Puro Pakualaman  dibangun
                  dengan pola dasar yang sama yakni adanya istana raja, alun-alun, masjid, dan pasar
                  (Pradnyawan, 2015:4). Kini, Puro Pakualaman masih didiami oleh keturunan Paku
                  Alam I, yaitu Sri Paduka Paku Alam X beserta keluarganya. Status Pakualaman memiliki
                  status yang mirip dengan Mangkunegaran  sehingga banyak karakteristik kampung
                  di Pakualaman juga mirip dengan di Mangkunegaran, baik dalam hal tradisi maupun
                  toponimi nama kampung.





                  Kelurahan Gunungketur:  Margoyasan, Gunungketur, dan
                  Kauman

                  1. Kampung Margoyasan



                  Sebelum menjadi sebuah kampung, wilayah Kampung Margoyasan merupakan tanah
                  pemberian dari Sri Paduka Paku Alam I. Kampung Margoyasan lokasinya berada di
                  belakang Pasar  Sentul. Penamaan  kampung Margoyasan terdiri dari dua kata yaitu
                  “marga” dan “yasan”. Dalam kamus Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939)[1], diketahui
                  bahwa istilah kata marga berarti dalan (jalan), sedangkan yasan berarti gêgawean atau
                  pekerjaan atau buatan. Tradisi lisan masyarakat, Margoyasan dahulunya merupakan
                  wilayah pemukiman bagi abdi dalem pembuat jalan[2]. Keberadaan abdi dalem selain
                  di dalam Njeron Benteng yang lebih bersifat abdi dalem pelayan kegiatan keseharian
                  keraton. Namun, juga terdapat abdi dalem di luar  Njeron Benteng  yang tugasnya
                  melayani kepentingan masyarakat luas. Seperti tugas yang dimiliki oleh abdi dalem
                  pembuat jalan dari Kampung Margayasa. Keberadaan jalan merupakan sebuah unsur
                  perkotaan  yang  penting terkait  mobilisasi  dan  distribusi, sehingga pihak  kerajaan
                  memerlukan ahli yang paham dan mengerti pembuatan jalan.
   334   335   336   337   338   339   340   341   342   343   344