Page 361 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 361
Toponim Kota Yogyakarta 343
tempat hiburan untuk sultan beserta anak-anaknya. Setelah digali ternyata meluap air
yang banyak sehingga tempat tersebut menjadi kolam. Setelah itu, para ahli sumur
diberikan tanah oleh Sultan karena jasanya. Lalu di kemudian hari mereka mendirikan
perkampungan yang hingga kini dikenal Kampung Blambangan.
Selain Kampung Blambangan, muncul berbagai kampung lainnya akibat dari air yang
semakin meluap di tempat hiburan yang telah dibangun. Mulai dari kampung untuk
para abdi dalem, kemudian Kampung Mbiru, Kampung Patran, Kampung Jerokan,
dan beberapa kampung lainnya yang muncul akibat semakin luasnya air luapan
tersebut. Luapan air tersebut seperti banjir bandang, sampai ada yang mengatan bahwa
“Jogja akan tenggelam, sebentar lagi Jogja akan menjadi lautan”. Akibat perkataan itu
kemudian dibangun tembok untuk menghalangi luapan air tersebut di dekat Kampung
Bener. Luapan air tersebut dianggap bencana sehingga membuat masyarakat khawatir
dan takut.
Kabar bencana tersebut sampai di telinga seorang ulama yang berasal dari Magelang.
Ulama tersebut bernama Kiyai Mbener yang merupakan keturunan Pangeran Singosari
yang juga keturunan dari Ki Ageng Pamanahan. Dengan kata lain, Kiyai Mbener
merupakan kerabat dari Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi
yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, bersaudara dengan Pangeran
Senopati dan sama-sama anak dari Ki Ageng Pamanahan. Kiyai Mbener pun datang
menemui Sultan Hamengku Buwono I dengan maksud memberikan saran untuk
mengatasi bencana tersebut. Saran dari Kiyai Mbener adalah mengadakan pentas
rakyat berupa Wayangan dan Gamelanan. Wayangan itu orang bermain wayang sedangkan
Gamelanan itu menyawer penari perempuan. Setelah pentas itu selesai, selanjutnya,
segala perabotan pentas tersebut baik alat musik dan lainnya dibuang ke sumber air
keluar yang menyebabkan bencana. Setelah barang-barang tersebut dibuang ke sumber
bencana, lambat laun luapan air pun menjadi surut sehingga menjadi aliran sungai
kecil yang hanya mengaliri persawahan rakyat dan dijumpai kolam kecil di sumber air
tersebut.
Saran dari Kiyai Mbener tersebut ternyata dapat mengatasi bencana. Atas jasanya
Kiyai Mbener diberikan tanah yang sekarang berada di Kampung Bener oleh Sultan
Hamengku Buwono I. Tanah yang diberikan kepada Kiyai Mbener dulunya merupakan

