Page 366 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 366

348         Toponim Kota Yogyakarta












                             pribumi dengan pemilik pabrik. Diceritakan bahwa pemilik pabrik selalu bertanya
                             kepada mandor pribumi terkait kapan waktu kehadiran para pekerja yang sedang cuti
                             akibat musim panen telah tiba dan harus ke sawah. Percakapan tersebut berdasarkan
                             buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Dhanu Priyo Prabowo
                             (2004) secara ilustrasi dapat dilihat seperti berikut:

                                 Pada suatu saat, di tengah gencarnya pembangunan beberapa pabrik, para buruh kasar
                                 terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya karena musim panen telah tiba. “Maaf,
                                 Tuan Mandor! Kami terpaksa harus pulang ke desa. Padi harus segera kami tuai.”
                                 kata salah seorang buruh kasar kepada seorang mandor pribumi. “Tetapi, kalian semua
                                 masih sangat dibutuhkan di sini. Pabrik belum selesai dibangun. Lihat itu, bahkan
                                 ada sebagian yang baru dimulai!” “Nanti, ketika panen selesai, kami pasti kemari
                                 lagi.” Pada akhimya, kepergian para buruh kasar itu membuat macet pembangunan
                                 pabrik. Ada seorang pengusaha Belanda tidak memahami keadaan seperti ini. Oleh
                                 karena itu, ia lalu menanyakan penyebab kemacetan itu kepada mandor pribumi.
                                 “Apakah karena bayaran yang diberikan kurang mencukupi, Mandor?” “Tidak, Tuan!
                                 Mereka akan kembali ke kota nanti setelah mereka selesai memanen padi.” Setengah
                                 bulan setelah itu, pengusaha Belanda itu kembali menyampaikan pertanyaan serupa
                                 kepada si mandor pribumi. Mandor priburni pun memberikan jawaban yang sama.
                                 Lama kelamaan, pengusaha Belanda itu menyerah terhadap keadaan. Untuk itu, ia
                                 lalu menyuruh istrinya untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Orang-orang yang
                                 bekerja itu sudah pada pulang belum, Pak Mandor?” tanya Nyonya Belanda kepada
                                 mandor pribumi. “Belun, Nyah!” jawab si mandor priburni dengan sopan. Mendapat
                                 jawaban seperti itu, si Nyonya Belanda lalu pulang. Selang beberapa hari kemudian,
                                 si Nyonya Belanda kembali menemui si mandor pribumi. “Belun datang juga mereka,
                                 Pak Mandor?” “Belun, Nyah!” Pertanyaan dan jawaban seperti itu terjadi berulang-
                                 ulang. Akhirnya, si Nyonya Belanda pun sampai pada batas kesabarannya. Dengan
                                 marah ia bertanya kepada mandor pribumi. “Kok belun Nyah, belun nyah! Belun
                                 nyah terus itu bagaimana?” Sejak saat itu, oleh Nyonya Belanda, si mandor pribumi
                                 itu dipanggil  dengan “Pak  Belunyah”. Ketika  Pak  Belunyah meninggal, namanya
                                 diabadikan menjadi nama kampung tempat di mana para buruh kasar dari desa itu
                                 berkumpul. Kampung itu kemudian disebut Belunyah. Sekarang, di kota Yogyakarta,
                                 orang lebih fasih mengatakannya sebagai Blunyah, Kampung Blunyah dibagi menjadi
                                 tiga: Blunyah Cilik, Blunyah Tegal, dan Blunyah Petinggen. Demikianlah asal-usul
                                 berdirinya kampung Blunyah! (Prabowo, 2004).

                             Dari cerita diatas maka dapat diketahui bahwa, kata blunyah merupakan berasal dari
                             penggabungan kata belun dan nyah. Sedangkan imbuhan istilah rejo yang merupakan
                             perkembangan dari kata  rêja dalam  kitab Baoesastra Djawa dapat diartikan sebagai
   361   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371