Page 370 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 370

352         Toponim Kota Yogyakarta












                             ia langsung menuju ke gubuk nenek  yang memberinya minuman  tersebut untuk
                             berterima kasih. Sampai di gubuk, Sutawijaya telah disambut layaknya seorang raja oleh
                             si nenek tersebut. Kemudian mereka bercakap-cakap, yang berdasarkan buku Antologi
                             Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Dhanu Priyo Prabowo (2004) kurang
                             lebih seperti berikut:

                                 “Mengapa Nenek  menyambutku seperti itu? Apa kelebihanku? Aku hanya
                                 orang biasa!”. “Bagi orang lain barangkali benar katakata Paduka itu,” jawab
                                 Nenek itu sambil memberikan sembah hormat. “Paduka? Kau panggil aku
                                 Paduka?”. “Paduka mernang seseorang yang diberi kelebihan dibandingkan
                                 orang lain. Paduka pada saatnya nanti akan menjadi seorang raja besar dari
                                 Mataram”. “Aku sangat heran dengan segala perkataanmu itu, Nek? Pantaskan
                                 aku menjadi seorang raja?”. “Seperti yang hamba sudah sampaikan, setelah
                                 Pajang berakhir, Mataram akan naik menjadi kerajaan besar di bawah Paduka!”
                                 Semakin  lama  menyelami  perkataan  Nenek penghuni gubuk tersebut,
                                 Sutawijaya setruikin bingung. Ia tidak tabu alasannya mengapa seorang tua
                                 yang hidup sederhana di tengah tengah hutan waru seperti itu dapat berkata-
                                 kata seperti ahli nujum. “Nek, jika benar yang kau katakan itu, ingatlah pesanku
                                 ini. Besok kalau aku sungguhsunguh dinobatkan menjadi seorang raja, rnaka
                                 seluruh keturunanmu dan orang-orang yang men diami tempat ini akan turut
                                 merasakan kemuliaaan.” Demi mendengar perkataan Sutawijaya seperti itu,
                                 Nenek tua menjadi terlongonglongong penuh haru. Di dalam hati ia memuji
                                 kebaikan tamunya itu. “Semua yang kukatakan akan kupenuhi. Besok, ketika
                                 aku benar-benar menjadi raja, engkau akan kuboyong ke keraton.” “Ke keraton.
                                 Bukankah Paduka sudah melihat sendiri siapa hamba ini. Lalu apa yang harus
                                 namba kerjakan di keraton nanti?” “Karena engkau telah berjasa padaku, maka
                                 aku akan memuliakanmu. Setiap malam Jurnat Kliwon engkau harus datang
                                 ke keraton. Engkau akan kuminta menyediakan air dingin yang berisi ampas
                                 bunga selasih. Air itu telah mengembalikan kekuatanku dari rasa Ielah dan
                                 capai setelah aku beristirahat di bawah pohon waru besar itu, Nek!” Nenek
                                 itu sangat terharu dengan seluruh perkataan Sutawijaya. Ia tidak menyangka
                                 sama  sekali seorang muda seperti dia dapat memiliki budi pekerti yang
                                 teruji. Setelah sedikit menguasai perasaan hatinya, Nenek itu lalu berkata,
                                 “Tuanku, perlu Paduka ketahui bahwa pohon waru besar tempat beristihat itu
                                 sebenarnya adalah sebuah pohon yang memiliki kelebihan. Dan, Paduka telah
                                 merasakannya. Oleh karena pohon waru itu milik Paduka, terserah Paduka
                                 akan perbuat.” “Kalau demikian, tempat ini kuberi nama Karangwaru. Besuk
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375