Page 373 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 373

Toponim Kota Yogyakarta   355











                  3. Kampung Petinggen


                  Berdasarkan  hasil wawancara  dengan sesepuh  kampung Petinggen, Asal-usul  Nama
                  Kampung Petinggen ialah berasal dari kata petinggi. Karena pada saat itu banyak para
                  petinggi keraton yang tinggal disana. Selain itu, kampung ini ini memiliki kisah siapa
                  saja orang yang tinggal disana jika mereka berkelakuan baik dan jujur maka ia akan
                  mendapatkan keberhasilan dalam pekerjaan mereka. Akan tetapi jika orang yang tinggal
                  disana berkelakuan buruk dan tidak jujur, maka ia akan mengalami hal-hal buruk dan
                  mengalami kegagalan dalam pekerjaannya (Bambang, Wawancara, 2019).


                  Melacak asal nama Kampung Petinggen, mungkin dapat dilihat dari segi kebahasaan.
                  Berasal dari kata petinggi, yang dalam kamus Bausastra Jawa karangan Poerwadarminta
                  (1939) berarti  lurah desa. Riwayat lain, mengatakan, asal nama kampung berasal
                  dari tradisi  lisan masyarakat setempat. Menurut masyarakat Kampung  Petinggen,
                  keberadaan kampung ini memiliki keterkaitan dengan asal muasal Kampung Blunyah.
                  Sedangkan diketahui, bahwa wilayah Blunyah (Bloenjah) merupakan pemukiman bagi
                  para buruh yang kemudian terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Blunyah Cilik, Blunyah
                  Tegal, dan Blunyah Petinggen. Masing-masing wilayah tersebut saat ini telah berganti
                  nama, seperti Blunyah Tegal yang menjadi Blunyah Gede, Blunyah Petinggen  yang
                  menjadi Petinggen, dan Blunyah Cilik yang saat ini menjadi Blunyahrejo.

                  Dari tradisi lisan ini, asal mula keberadaan Kampung Petinggen tidak dapat dilepaskan
                  dari riwayat Kampung Blunyah. Sehingga dapat diketahui bahwa Kampung Petinggen
                  merupakan  pemukiman para petinggi atau pejabat tinggi yang memimpin  buruh.
                  Kehadiran kampung ini dapat dikaitkan dengan pembangunan pabrik secara besar-
                  besaran di Yogyakarta pada tahun 1870-an. Diperkirakan kampung ini mulai berdiri
                  bersamaan  dengan pertumbuhan industrialisasi  dengan modal  swasta  sejak 1870
                  (Ingleson, 2015) .


                  Pada awalnya, wilayah Petinggen merupakan wilayah persawahan. Akan tetapi, seiring
                  perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk, wilayah ini mengalami alih fungsi
                  lahan menjadi lahan pemukiman. Banyak kerusakan pada roda-roda mereka akibat jalur
                  tersebut.

                  Wilayah  kampung Petinggen ini pada  masa  dahulu  sama  dengan wilayah  kampung
                  Petinggen. Saat ini yaitu wilayah RW 7, RW 8, dan RW 9 masuk wilayah Kelurahan
   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378