Page 376 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 376
358 Toponim Kota Yogyakarta
pandhoga” (Sasradiningrat, 1903:1122).
Dalam kalimat tersebut diketahui bahwa istilah Bangi diartikan sebagai woh êlo atau
buah elo. Tanaman elo (ficus racemosa) ada yang menyebutnya elo, loa, low, dan luing.
Tanaman ini merupakan tipe tanaman yang cocok hidup di daerah yang dekat dengan
sumber air (Trimanto, 2013 dalam Zaharah, 2016). Dalam konteks lingkungan dan
lanskap, tentu ini sesuai jika dikaitkan dengan lokasi Bangirejo yang tidak jauh dengan
Sungai Buntung. Dimana tanaman elo akan banyak tumbuh disekitar sungai tersebut.
Adapun istilah rejo yang merupakan perkembangan dari kata rêja dalam kitab Baoesastra
Djawa dapat diartikan sebagai têntrêm sarta akèh wonge atau dalam bahasa Indonesia
berarti tenteram serta banyak orangnya (Poerwadarminta, 1939). Pemberian kata rejo
banyak ditemui di berbagai wilayah khususnya di Jawa. Nampaknya penggunaan kata
ini merupakan sebuah harapan masyarakat, agar pemukiman yang mereka huni dapat
selalu tenteram dan nyaman.
Sulit diketahui secara pasti kapan Kampung Bangirejo mulai dihuni, namun jika
ditelusuri berdasarkan kajian folklore dari kampung terdekat, maka ditemukan
Kampung Karangwaru sebagai wilayah pembandingnya. Seperti diketahui berdasarkan
buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, maka akan diketahui jika
Kampung Karangwaru merupakan bekas pertapaan Panembahan Senopati yang
merupakan pendiri Kerajaan Mataram Islam (Prabowo, 2004). Oleh karena itu,
nampaknya, Kampung Bangirejo, dapat diperkirakan telah muncul sejak masa awal
Mataram Islam sekitar abad 17 M.
Dari penggabungan dua kata ini, maka dapat diartikan bahwa Kampung Bangirejo
adalah pada mulanya adalah sebuah perkampungan masyarakat, yang lingkungannya
banyak ditumbuhi tanaman elo. Akan tetapi, setelah perkembangan zaman, keberadaan
tanaman elo menjadi hilang. Dimana hal ini sejalan dengan pembangunan perumahan
yang semakin padat, dan menggusur lahan-lahan kosong yang ada di Kampung Bangirejo.
Berdasarkan peta tahun 1925, telah diketahui Bangirejo (Bangiredja) saat itu telah
menjadi pemukiman kampung masyarakat pribumi. Hal tersebut dapat dibuktikan,
dengan pewarnaan hijau sebagai simbol wilayah pemukiman masyarakat pribumi pada

