Page 369 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 369
Toponim Kota Yogyakarta 351
2. Kampung Karangwaru Lor dan Karangwaru Kidul
Keberadaan Karangwaru belum dapat diketahui secara pasti sejak kapan ia telah berdiri.
Apakah sudah berdiri sebelum Kesultanan Yogyakarta berdiri atau sebelumnya atau
wilayah ini telah berdiri sejak awal abad 20. Dalam majalah Pusaka Jawi edisi Agustus
1935, menceritakan tentang orang-orang sungai yang ada di sungai Winanga. Majalah
itu juga menyebutkan, bahwa ada satu sungai yang bernama sungai Buntung (Anonim,
1935: 124), sungai ini setiap terjadi banjir, mengalami tanah longsor di sepanjang sisi
sungai tersebut. Sungai ini terletak di sebelah selatan Karangwaru. Keberadaan sungai
buntung dapat ditemukan di wilayah Kelurahan Karangwaru.
Kampung Karangwaru Lor dan Kidul berdasarkan asal usulnya, merupakan satu
perkampungan yang bernama Kampung Karangwaru. Penamaan kampung ini dapat
kita telusuri melalui dua istilah, yaitu Karang dan Waru. Dalam kamus Bausastra Jawa
karangan Poerwadarminta (1939), tertulis istilah karang, yang memiliki arti padhas
ing sêgara, wit krambil, kêbon krambil, pomahan, pakarangan, kadunungan, panggonan.
Adapun, Waru dalam kamus tersebut juga disebut ambaru, waharu, wande, lêngis (waru
lanang), gombong (waru wadon), bahuru. Dari pemaknaan arti-arti istilah tersebut sebagai
konteks pemukiman, maka dapat diketahui arti yang tepat untuk istilah karang yaitu
pomahan (perumahan) dan panggonan (tempat). Adapun, arti istilah Waru merujuk pada
penyebutan nama-nama tumbuhan jenis hibiscus tiliaceus. Tumbuhan tropis berbatang
sedang ini dikenal sebagai pohon peneduh, baik di tepi jalan atau di tepi sungai dan
pematang serta di tepi pantai (Suwandi, 2014). Secara konteks lingkungan, tentu ini
sesuai jika dikaitkan dengan lokasi Kampung Karangwaru yang dilalui oleh Sungai
Buntung. Dimana tanaman waru akan banyak tumbuh di sekitar sungai tersebut.
Riwayat lain yang membahas asal penamaan Karangwaru, dapat dirujuk melalui
tradisi lisan dan budaya. Dimana berdasarkan dari tradisi masyarakat setempat, bahwa
Karangwaru dahulu merupakan tempat tapabrata (meditasi) Sutawijaya yang merupakan
nama saat muda dari Pendiri Kerajaan Mataram Islam yaitu Panembahan Senapati.
Dikisahkan saat Sutawijaya selesai bertapa, ia merasakan haus yang amat sangat dan
menyuruh abdi dalemnya untuk mencari air. Ketika mencari air, ia melihat sebuah
gubuk dan seorang nenek yang tidak disangka telah menyiapkan air yang dicampur
selasih (biji tumbuhan kemangi) untuk diberikan kepada Sutawijaya. Setelah minum,

