Page 412 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 412
394 Toponim Kota Yogyakarta
Gapura Kampung Sumber: Survei tahun 2019
Glagah (kiri) dan
Suasana Kampung
Glagah (kanan)
3. Kampung Tegalcatak
Dalam pengungkapan tradisi lisan, riwayat nama Kampung Tegalcatak berhubungan
dengan suatu peristiwa atau kondisi “unik” di hamparan tanah. Berakar dua kata,
yakni tegal dan cathak. Ditelusuri dari kamus Bausastra Jawa, Poerwadarminta (1939)
mengartikan terminologi têgal sebagai: ara-ara, wêwêngkon; palêmahan sing ditanduri
palawija lsp tanpa diêlêbi banyu (tanah lapang yang ditanami palawija dan sejenisnya
tanpa dialiri banyak air). Sedangkan lema cathak, pengarang De Nooy melalui pustaka
Javaansche Woordenlijst (1893) menjelaskan sebagai tuma asu aran pinjal; bangsa lalêr gêdhe
sok ngrubung raja-kaya (binatang sejenis lalat yang sering merubung hewan ternak).
Keterangan di muka menyediakan penafsiran toponim Kampung Tegalcatak yang lebih
masuk akal. Bermula dari masyarakat setempat di masa lampau melihat daerah ini berupa
tanah lapang dengan dijumpai hewan cathak yang relatif banyak. Tempo dulu, masyarakat
Jawa mengenal cathak suka mengerumuni kerbau, sapi, maupun kambing. Sebuah
pemandangan yang lazim tatkala hewan piaraan berkeliaran di tegal dihinggapi cathak
sehingga menyebabkan tubuh binatang ternak gatal-gatal. Imbasnya, pemilik ternak atau
warga biasanya melarang atau menghalau ternaknya untuk digembalakan di tegal penuh
cathak tersebut ketimbang ternaknya menderita gatal. Melihat kenyataan itu, maklum
warga sekitar menamai kawasan tersebut dengan nama Tegalcatak sampai detik ini.

