Page 416 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 416

398         Toponim Kota Yogyakarta












                             2. Gambiran


                             Menguak sejarah lokal Kampung Gambiran, diperoleh keterangan yang erat kaitannya
                             dengan dunia  flora. Tempo dulu, daerah  ini diyakini  banyak  pohon gambir  yang
                             menarik perhatian warga. Lantas, penduduk setempat menyebut kawasan ini dengan
                             nama Gambiran. Menurut pakar tumbuhan dan budayawan, Imam Budi Santosa (2017)
                             bahwa pohon gambir (uncaria gambir) telah dikenal lama di pulau Jawa, terutama dari
                             hasilnya yang berupa ekstrak gambir yang telah dikeringkan. Ekstrak tadi berupa getah
                             yang berasal dari remasan daun serta ranting pohon gambir. Setelah dikeringkan dan
                             dicetak warnanya kuning kehitaman dan digunakan sebagai kelengkapan nginang (makan
                             sirih). Kinang adalah makanan atau ramuan tradisional untuk dikunyah di mulut, tidak
                             ditelan, dan seperti menikmati permen karet.


                             Di  tlatah Jawa, keberadaan  gambir  sangat diperlukan  untuk memenuhi kebutuhan
                             makan  sirih alias  nginang yang  membudaya. Bahkan, bukan  perempuan  saja  yang
                             nginang, laki-laki pun punya kebiasaan yang sama, termasuk raja dan bangsawan yang
                             tinggal di istana kala itu. Kinang terdiri dari campuran tembakau kering, daun sirih,
                             gambir, jambe, injet (kapur sirih), dan kembang kanthil. Campuran tersebut dibungkus
                             dengan conthong (kerucut) yang terbuat dari daun pisang.

                             Di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan  Surakarta, mengunyah kinang mengikuti
                             perayaan Sekaten. Bahkan, kinang dijual dalam perayaan agung itu. Dalam mitologi
                             Jawa, aneka bahan kinang mengandung makna filosofis. Bahan ramuan itu perlambang
                             kehidupan manusia yang pahit, sepet, getir, getas, dan asin. Daun sirih membungkus arti
                             bertemunya rasa. Hal ini lambang rasa keingintahuan manusia yang selalu muncul pada
                             Tuhan. Arti lainnya, tempat bergantungnya hati. Bunga kantil bermakna ingin selalu
                             bersama Tuhan. Orang mengunyah kinang dengan menyanding bunga kantil diharapkan
                             dapat selalu ingat pada Tuhan, agar baik tindak tanduknya.


                             Dalam teks Jawa lama, misalnya Babad Giyanti yang menjadi patokan sejarah lahirnya
                             Keraton Kasultanan Yogyakarta, tersebut nama Kampung Gambiran:  sawusira maos
                             tulis| pangeran kalangkung suka| ngundhangi wadya ambêndhe| samêkta kang bala budhal|
                             pangran dhatêng  Mataram| amargi ing ardi Kidul| sapraptanira Mataram|| dhusun ing
                             Gambiran  nênggih| baris Dipati  Janingrat.  Terjemahan bebasnya:  setelah  membaca
                             surat| pangeran sungguh senang| memanggil prajurit untuk memukul bende| para
   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421