Page 420 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 420
402 Toponim Kota Yogyakarta
2. Kampung Nitikan
Menurut tradisi lisan yang berkembang, asal nama Kampung Nitikan berasal dari akar
kata “nitik” yang berjejalin dengan industri batik. Dirunut dari kamus Bausastra Jawa
garapan Poerwadarminta (1939), lema nitik mengandung maksud nglari (menandai
barang yang hilang); nyumurupi têngêrane (mengidentifikasi tanda); titik (bathikan) atau
membuat titik pada kain polos untuk kegiatan membatik. Dari sekian arti di muka, yang
bertemali dengan kesejarahan Kampung Nitikan ialah nitik dalam aktivitas membatik
yang dikerjakan masyarakat dengan canthing.
Fakta tersebut didukung dengan keterangan yang termuat dalam Kawruh Ambathik
(Nyêrat), yang diterbitkan majalah Kajawen (Maret, 1928). Dikatakan, wontên malih
dipun wastani canthing nitik, punika canthing ingkang bolonganing cucukipun pasagi, prêlu
kangge nyêrat nitik, bêtahan manawi botên gadhah, sagêd ngangge canthing carat kalih dipun
dhèmpètakên. Terjemahan bebasnya: ada lagi disebut canthing nitik, yaitu canting yang
lubang pucuknya persegi empat, dipakai untuk memberi titik. Jika tidak punya, bisa
memakai canting carat dengan dirapatkan.
Memang, kawasan Nitikan sedari lama cukup akrab dengan industri batik dan
wirausaha. Merujuk hasil riset Ghifari Yuristiadhi (2011) diketahui, terbangun jaringan
perdagangan antara pengusaha-pengusaha yang tinggal di Karangkajen, Kotagede, dan
Kauman dengan pengusaha yang tinggal di Nitikan, terutama perdagangan malam
(bumbu batik) dan kerajinan tangan. Ibarat domino, Karangkajen dan Kotagede yang
telah muncul sebagai pusat nadi ekonomi terlebih dahulu memantik Nitikan untuk
tumbuh dan berkembang sebagai sentra ekonomi terutama dalam bidang perdagangan
batik dan kerajinan.
Selain industri malam, pada perkembangannya, banyak pengusaha Nitikan bermunculan
pada bidang usaha lain, sesuai perkembangan zaman yang terjadi. Penyesuaian ini
dilakukan dalam rangka tetap bisa menghasilkan barang yang bisa diterima oleh pasar.
Selain malam yang muncul pada 1910-an, kerajinan dengan bahan tulang, tempurung
kura-kura (bulus), dan tempurung kelapa menjadi komoditas ekonomi masyarakat
Nitikan pada 1950-an. Perkembangan selanjutnya, masyarakat Nitikan mulai menekuni
industri almunium pada 1960-an yang masih bertahan hingga sekarang. Selain ketiga
komoditas yang muncul silih berganti, masyarakat Nitikan juga mengembangkan
beberapa perdagangan rumahan kecil seperti kios dan aneka warung.

