Page 423 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 423
Toponim Kota Yogyakarta 405
Kelurahan Giwangan: Kampung Giwangan, Ponggalan, dan
Mendungan
1. Kampung Giwangan
Dari penelusuran tradisi lisan, toponim Kampung Giwangan punya kaitan dengan
asesoris tubuh. Poerwadarminta dalam kamus Bausastra Jawa (1939) menyebut istilah
giwang yang berarti suwêng amata siji atau anting-anting bermata satu. Tempo dulu,
mata giwang berbahan mutiara. Terdapat makna lain dari giwangan menurut Wintêr
dalam Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun (1928), yaitu sêlingan (sêlang-sêling), gênjotan, dan
gonjingan. Dari perluasan makna atau variasi arti tersebut, riwayat penamaan Kampung
Giwangan cenderung mengacu pada unsur perhiasan giwang yang dipakai di telinga.
Bagi masyarakat Jawa klasik, giwang merupakan unsur yang berharga karena masuk
kategori kekayaan (rajabrana) atau barang mewah yang musti dirawat dengan hati-hati.
Catatan sejarah sezaman merekam pentingnya giwang dalam kehidupan masyarakat
Jawa. Berikut ini dialog yang dibangun sastrawan Padmasusastra (1961): Manganggo
apa manèh? b. Nganggo giwang (anting-anting panunggul siji) intên utawa selong. a. Dadi ora
ana wong manganggo suwêng? b. Iya giwang iku suwênge, awit kupinge ora bolong amba kaya
kupinge wong Jawa. a. Manganggo apa manèh? b. Nganggo slêpe kuningan utawa salaka dhus-
dhusan, sanadyan wis nini-nini ora isin nganggo giwang sarta slêpe, luwih manèh paniti lan
liya-liyane. Terjemahan bebasnya: memakai apa lagi? Mengenakan giwang (anting-anting
bermata satu) intan atawa selong. Jadi tidak ada yang memakai suweng? Iya giwang itu
sebagai suweng, karena telinga mereka tidak dilubang besar seperti kuping orang Jawa.
Mengenakan apa lagi? Memakai slepe dari kuningan atau kotak-kotak perak, meski
sudah merenta (nenek-nenek) tetapi tidak malu memakai giwang dan slepe, apalagi
peniti dan lainnya.
Keterangan sejarah di muka memperlihatkan fenomena budaya pemakaian suweng
dalam dunia perempuan Jawa. Ia diakrabi dan diminati sekalipun yang mengenakan
mereka telah berusia sepuh. Asesoris pada kuping yang menjadi bahan percakapan ini
menegaskan bahwa giwang maupun suweng merupakan primadona bagi wanita di Jawa
tempo dulu, bahkan hingga saat ini. Merujuk sumber yang lebih tua, Serat Centhini,
termaktub istilah giwang pula: Matur sandika nyai Malarsih/ anulya nyorog pêthine
giwang/ mundhut arta bolèng kabèh/ karsa kinèn tutuku/ animbali wadon Sumbaling/ sira

