Page 426 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 426

408         Toponim Kota Yogyakarta












                             Sasmito menjelaskan, sedari lama kampung ini menghidupi gejog lesung dan tek-tek
                             kentongan. Gejog lesung ialah kesenian musik tradisional yang memanfaatkan lesung
                             atau alat penumbuk padi dari kayu untuk mengiringi ketoprak, upacara adat, hingga
                             penolak bala. Sementara  tek-tek kentongan ialah  kesenian musik tradisional  yang
                             memanfaatkan sejumlah alat musik dari bambu atau kentongan. Tempo dulu, tek-tek
                             kentongan ini biasa digunakan warga dalam kegiatan pos kamling atau ronda untuk
                             menjaga keamanan desa.


                             Dari realitas kultural di atas, toponim Kampung Ponggalan memperlihatkan kedekatan
                             manusia Jawa dengan permainan tradisional yang digemari anak-anak. Seturut dengan
                             pemikiran Overbeck bahwa permainan anak-anak Jawa di zaman dulu demikian khas,
                             unik dan arkais. Dari permainan anak-anak terbacalah ciri khas sebuah budaya yang
                             hendak ditampilkannya. Dan tentu saja budaya itu adalah Budaya Jawa. Maka, toponim
                             tentang gangsingan ini kiranya boleh mengantar pembaca merenungkan kembali tesis
                             Johann Huizinga bahwa permainan bukan sekadar data dari budaya, bukan pula budaya
                             yang melahirkan permainan. Sebaliknya, permainan  yang melahirkan  budaya, dan
                             menjadi dasar dan sumber dari budaya dan peradaban.

                             Menurut Huizinga, tidaklah sulit untuk menunjukkan, bahwa faktor-faktor tertentu
                             permainan  sebuah menjadi unsur-unsur  yang sangat aktif dalam  proses kultural
                             masyarakat tersebut. Dan unsur-unsur permainan itu juga ikut memberikan bentuk-
                             bentuk fundamental  dari kehidupan  sosial  mereka. Persaingan, yang  menjadi  jiwa
                             permainan dalam kebanyakan masyarakat, malahan merupakan dorongan sosial yang
                             lebih tua dari kultur masyarakat itu sendiri. Persaingan itu bagaikan ragi yang mengadoni
                             masyarakat tersebut sepanjang hidupnya. Ritus pun sesungguhnya adalah  kejadian
                             yang tumbuh dari permainan-permainan yang bersifat sakral. Juga aturan perang,
                             konvensi dan tata cara kehidupan luhur dan bermartabat pun. Bermain gangsingan
                             mereka memperoleh kesenangan. Kesenangan itu juga tidak bisa dijadikan target.
                             Hanya dengan bermain, orang bisa merasakan kesenangan itu. Jadi, permainan tidak
                             pernah memproduksikan sesuatu diluar dirinya kecuali kesenangan dalam permainan
                             itu sendiri. Peradaban pada tahapnya yang paling awal adalah permainan. Peradaban
                             itu muncul di dalam permainan dan sebagai permainan, dan tak pernah meninggalkan
                             permainan.
   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430   431