Page 424 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 424
406 Toponim Kota Yogyakarta
mênyanga pasar/ tutukuwa bumbu/ uyah trasi brambang bawang/ kacang wose ijo kaluwak
kêmiri/ asêm laos panjêlang. Terjemahan bebasnya: Berkata bersedia nyai Malarsih/ lalu
membuka peti giwang-nya/ mengambil semua uang simpanannya/ (karena) ingin
membeli sesuatu/ dipanggillah (seorang) wanita si Sumbaling/ “engkau pergilah ke
pasar/ belilah bumbu/ garam, terasi, bawang merah, bawang putih/ kacang wose ijo
(kacang kupas), kaluwak, kemiri/ asam, laos, panjelang//
Terkait dinamika di tingkat lokal, masih segar dalam ingatan, masyarakat Kampung
Giwangan kukuh menjaga nilai tradisi dan budaya leluhur. Bahkan, sejak tahun 1970-
an, Kelurahan Giwangan telah ditetapkan sebagai kawasan penyangga budaya oleh
pihak Keraton Kasultanan Yogyakarta. Di Kelurahan Giwangan, berbagai kegiatan
kesenian tradisional Jawa masih terpelihara dan terjaga dengan baik. Buktinya, masih
banyak kelompok kesenian tradisional yang rutin beraktivitas. Purbudi Wahyuni,
penggiat budaya dan pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Giwangan, menjelaskan
ada belasan kelompok di tiap kampung dengan aneka jenis kesenian tradisional yang
aktif di Kelurahan Giwangan. Mulai dari kesenian karawitan/gamelan, tari tradisional,
gejog lesung, tek-tek/kentongan, hingga wayang orang, kethoprak, bahkan macapat.
Aktivitas kultural ini makin menguatkan kesejarahan Kampung Giwangan sebagai
kawasan tua yang ramah nilai tradisi. Sumber: https://www.google.co.id/maps
Lokasi Kampung
Giwangan

