Page 410 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 410

392         Toponim Kota Yogyakarta












                             2. Kampung Glagah


                             Ditelusuri dari tradisi lisan, riwayat nama Kampung Glagah berhubungan dengan flora,
                             bukan berlatar tokoh maupun peristiwa sejarah yang khas. Kawasan ini pada masa
                             lampau banyak ditemukan tanaman glagah, sehingga penduduk setempat menyebutnya
                             dengan nama Glagah berdasarkan apa yang dipandang. Menurut Imam Budi Santosa
                             (2017) yang menekuni dunia flora, diketahui pohon glagah atau gelagah (Saccharum
                             spontaneum) bukan hanya terdapat di Jawa, tetapi juga di seluruh Indonesia. Di Batak
                             (elinamai galoga), di Minangkabau (galagah, kalagah), di Sunda (kaso), di Bali (glagah),
                             dan dalam bahasa Inggris disebut wild cane atau kans grass.


                             Glagah tumbuh mulai dataran rendah hingga ± 1.500 m dpl. Jenis rumput buluh ini
                             menyukai wilayah dengan curah hujan tinggi, biasanya lebih dari 1.500 mm/ tahun.
                             Ia juga dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah. Gelagah cukup tahan
                             pula terhadap kekeringan dan banjir. Imam Budi Santosa memaparkan, pada kondisi
                             tertentu posisi glagah dapat menyerupai alang-alang, artinya menjadi ‘pengganggu’ pada
                             tanaman tertentu yang dibudidayakan. Meski di Jawa manfaat glagah bagi masyarakat
                             relatif kecil, namun tumbuhan ini dinilai punya prospek yang baik bila digunakan
                             pengendali erosi tanah dan reklamasi lahan bekas tambang. Selain itu, gelagah untuk
                             pakan ternak. Daunnya yang dikeringkan untuk  membuat atap gubuk.  Batang dan
                             bagian lain dimanfaatkan pula sebagai bahan pembuat kertas. Juga sebagai tanaman hias.

                             Dalam pustaka berjudul Têpapalupi (1925) dijelaskan kondisi tanah yang ditumbuhi
                             glagah: ing tanah ngriku punika hawanipun asrêp sangêt, dhatêng badan raosipun kêkês kados
                             dipun kum toya ès, mila lare kalih lampahipun sami sidhakêp kalihan narêthêg, lambenipun
                             anggêbibir, alisipun sami mêdal pêthak-pêthak  kados unthuk, bokmanawi saking kêkêsipun,
                             sarêng dumugi lambunging rêdi ingkang nginggil, marginipun nasak galagah tuwin rêrayungan,
                             tur sampun botên kêpêthuk ing tiyang, ingkang kaambah punika botên wontên wit-witanipun
                             ingkang agêng, têtuwuhanipun amung glagah tuwin rêrayungan inggilipun sadêdêg.


                             Terjemahan bebasnya: di daerah tersebut hawanya sangat dingin, badan rasanya sangat
                             dingin seperti direndam dalam  air es, maka  kedua anak tersebut berjalan sedekap
                             dan menggigil, bibirnya terlihat basah, alis keluar putih-putih seperti busa, mungkin
   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415