Page 143 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2021
P. 143

BELUM ADA LAPORAN PERUSAHAAN TAK SANGGUP BAYAR THR KE MENAKER

              Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengungkapkan belum ada perusahaan yang
              melaporkan tidak sanggup membayar Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan 2021 hingga hari
              ini. Ida sendiri telah menerbitkan aturan THR Lebaran 2021 dalam Surat Edaran (SE) Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan
              Tahun 2021 Bagi Pekerja atau Buruh di Perusahaan pada Senin (12.4) lalu.

              "Sampai hari ini belum ada pengaduan yang masuk terkait dengan ketidakmampuan perusahaan
              membayar THR," ujarnya dalam Launching Posko THR Tahun 2021, Senin (19/4).

              Menurutnya,  laporan  tersebut  biasanya  muncul  pada  minggu  kedua  atau  ketiga  Ramadan,
              hingga  batas  akhir  pelaporan,  yakni  H-7  Lebaran.  Pasalnya,  perusahaan  yang  tidak  mampu
              membutuhkan  waktu  untuk  melakukan  dialog  atau  perundingan  secara  bipartit  dengan
              pekerja/buruh.

              "Biasanya bisa terbaca aduannya itu pada minggu kedua dan minggu ketiga (Ramadan) dan
              tentu saja sampai batas akhir pembayaran THR itu H-7," imbuhnya.

              Dalam  suratnya,  Ida  mewajibkan  pengusaha  membayar  THR  secara  penuh  kepada
              pekerja/buruh maksimal H-7 Lebaran. Namun, ia memberikan keringanan bagi perusahaan yang
              terdampak pandemi covid-19 untuk melakukan perundingan dengan buruh, sehingga pengusaha
              bisa mendapatkan kelonggaran waktu pembayaran THR sampai H-1 Lebaran.

              Bukti  perusahaan  tidak  mampu  membayar  THR,  lanjutnya,  harus  disampaikan  berdasarkan
              laporan keuangan internal perusahaan secara transparan.

              "Nah,  hasil  dari  pembahasan  bipartit  tersebut  itu  dilaporkan  pada  Dinas  Ketenagakerjaan
              setempat," ucapnya.
              Sesuai dengan aturan perundang-undangan, ia memastikan perusahaan yang melanggar aturan
              THR, maka akan mendapatkan sanksi administratif. Sementara itu, perusahaan yang terlambat
              membayar THR akan dikenai denda sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

              "Denda tersebut digunakan untuk kepentingan kesejahteraan pekerja atau buruh," jelasnya.

              Aturan mengenai sanksi sendiri tertera dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker)
              Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari Raya  Keagamaan  Bagi Pekerja  atau  Buruh  di
              Perusahaan.  Mengutip  aturan  itu  disebutkan  perusahaan  yang  terlambat  membayar  THR
              Keagamaan dikenai denda sebesar 5 persen.

              Dalam  hal  ini,  Ida  berharap  semua  pihak  terkait  mendukung  pelaksanaan  pembayaran  THR
              Lebaran 2021, termasuk para pemimpin di daerah.

              "Saya  minta  peran  aktif  gubernur,  bupati  walikota  untuk  melakukan  pengawasan  dan
              menjatuhkan sanksi bagi pengusaha yang melakukan pelanggaran pelaksanaan THR 2021 sesuai
              dengan peraturan undang-undang yang berlaku," ucapnya.














                                                           142
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148