Page 29 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2021
P. 29

bakal berlangsung 21 April melibatkan 10 ribu buruh di 24 provinsi dan 150 kabupaten/kota
              termasuk di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK).


              WARNING! BAKAL ADA DEMO BURUH SUSULAN

              Gelombang demo buruh menolak Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
              masih berlanjut. Setidaknya akan ada dua aksi besar-besaran oleh puluhan ribu buruh yang
              tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Gelombang demo yang pertama
              bakal berlangsung 21 April melibatkan 10 ribu buruh di 24 provinsi dan 150 kabupaten/kota
              termasuk di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

              Tuntutannya  adalah  meminta  hakim  MK  mengabulkan  judicial  review  baik  secara  materiil
              maupun formil terhadap Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Singkatnya
              mereka meminta UU Cipta Kerja khususnya klaster ketenagakerjaan dicabut.

              "Agendanya  meminta  para  hakim  Mahkamah  Konstitusi  untuk  mengabulkan  gugatan  baik
              materiil maupun formil dari KSPI terhadap Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta
              Kerja," kata Presiden KSPI Said Iqbal dalam konferensi pers virtualSenin (19/4/2021).

              Berikutnya aksi demo buruh pada 1 Mei atau May Day akan menerjunkan massa lebih banyak
              lagi yaitu sekitar 50 ribu buruh yang tergabung di KSPI maupun yang terafiliasi.

              "Karena ini KSPI meluas boleh jadi lebih dari 200 kabupaten/kota. 50 ribu buruh di 24 provinsi
              lebih dari 200 kabupaten/kota dan 3.000 pabrik akan bergabung di Aksi May Day," ujar Iqbal.

              Tuntutan yang disuarakan saat May Day ada dua, pertama menolak UU Cipta Kerja khususnya
              klaster  ketenagakerjaan.  Berikutnya  meminta  diberlakukannya  upah  minimum  sektoral
              kabupaten/kota (UMSK) tahun 2021. Kaum buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat
              Pekerja Indonesia (KSPI) yakin Mahkamah Konstitusi (MK) bakal mencabut UU tersebut.

              "Kami  merasa  sangat  yakin  100%  uji  formil  yang  kami  ajukan  itu  akan  dikabulkan  oleh
              Mahkamah Konstitusi karena apa yang kami dalilkan itu berdasarkan yang dituangkan dalam
              peraturan perundang-undangan," kata kuasa hukum pemohon Said Salahudin dalam konferensi
              pers virtual.

              Pihaknya menguji proses pembentukan UU Cipta Kerja dengan pembentukan UU yang lain. Dia
              menyatakan terdapat pertentangan dalam pembuatan UU Cipta Kerja yang tidak sesuai kaidah.

              "Saya cukup lama menggeluti bidang ketatanegaraan dan saya belum menemukan dalil yang
              bisa membenarkan secara formil pembentukan Undang-undang Cipta Kerja ini," sebutnya.

              Berlanjut ke halaman berikutnya.

              Menurutnya  landasan  pembentukan  UU  Cipta  Kerja  tidak  memenuhi  berbagai  unsur  yang
              seharusnya ada dalam pembuatan undang-undang.

              Dalam proses pengajuan Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja oleh pemerintah ke DPR
              pihaknya menemukan fakta bahwa naskah akademiknya baru diserahkan pemerintah ke DPR
              belakangan. Hal itu menurutnya sudah menyalahi prosedur.

              "Bagaimana  mungkin  DPR  mengesahkan  dan  mengetuk  palu  memasukkan  RUU  Cipta  Kerja
              dalam prolegnas sedangkan dia sendiri belum menerima naskah akademiknya," ujarnya.





                                                           28
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34