Page 290 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 NOVEMBER 2021
P. 290

mengenai polemik tersebut. Dia menilai memang hampir setiap tahun dalam penetapan upah
              minimum selalu menimbulkan polemik.


              KENAIKAN UPAH MINIMUM DINILAI BIKIN LAPANGAN KERJA MENYUSUT

              JAKARTA,  :  Polemik  mengenai  upah  minimum  selalu  muncul  saat  mendekati  batas  waktu
              pengumuman  besaran  upah  minimum  tersebut.  Itulah  yang  terjadi  belakangan  ini  jelang
              pengumuman besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2022 yang dilakukan paling lambat
              30 November 2021.

              Ketua  Umum  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  (Apindo)  Hariyadi  B.  Sukamdani  ikut  bicara
              mengenai polemik tersebut. Dia menilai memang hampir setiap tahun dalam penetapan upah
              minimum selalu menimbulkan polemik.
              "Kami menyadari setiap tahun masalah pengupahan ada saja tarik menarik ketidakpuasan dan
              sebagainya," katanya dalam konferensi pers, Selasa (2/11/2021).

              Terkait apakah polemik pengupahan ini memengaruhi investasi di Indonesia, Hariyadi menyebut,
              ada pergeseran dari jenis realisasi investasi. Dari tadinya Indonesia lebih banyak investasi padat
              karya yang menyerap banyak lapangan pekerjaan menjadi hanya pada modal.

              "Dapat kami sampaikan, kalau kita melihat tahun-tahun sebelumnya di 2010 pada saat investasi
              PMA dan PMDN itu adalah kira-kira Rp 203-204 triliun, rasio per Rp 1 triliun bisa menyerap 5.014
              tenaga kerja. Di 2019 pada saat kita mencapai sekitar Rp 806 triliun, penyerapannya tinggal
              1.220 kurang lebih," terangnya.

              "Apa artinya, ya ini data loh ya, saya nggak ngarang, artinya yang masuk lebih banyak padat
              modal. Padat karyanya hilang, itu yang sudah terjadi. Jadi memang ada korelasi bahwa UMP-
              nya  naik  maka  padat  karya  yang  harusnya  jadi  bantalan  penyerapan  tenaga  kerja  malah
              menyusut, yang masih bertahan adalah yang padat modal," tambahnya.

              Hariyadi menambahkan, pihaknya sejak 2004 atau 1 tahun setelah UU nomor 13 tahun 2003
              tentang  Ketenagakerjaan  disahkan  sudah  sering  mengajukan  formula  penghitungan  upah
              minimum.  Sebab  menurutnya  aturan  itu keluar dia  yakin  akan  berpengaruh  kepada  realisasi
              investasi.

              "Kami melihat bahwa aturan mengenai masalah pengupahan di UU 13 itu pasti akan membuat
              penyusutan di penyerapan tenaga kerja," tuturnya.

              Meski begitu, dia menilai penetapan upah minimum saat ini yang diatur dalam Undang-undang
              (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan turunannya di Peraturan Pemerintah (PP)
              Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan sudah tepat.

              "Kalau ditanya batas wajarnya berapa menurut pandangan kami formula yang ada sekarang ini
              adalah parameter yang wajar. Jadi kita mengacu dari formula yang ada, karena di formulasi itu
              sudah jelas ada perhitungan atau formulasi rata-rata konsumsi masyarakat. Nah itukan sesuatu
              yang realistis. Kedua ada parameter tentang pertumbuhan ekonomi atau inflasi. Kalau juga ada
              parameter tentang tingkat pengangguran terbuka," pungkasnya.

              kbc 10.





                                                           289
   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294   295