Page 23 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 23

51 WNI TERJEBAK DI KAPAL IKAN ASING

              Laporan  yang  diterima  lembaga  non-pemerintah  menyebutkan,  setidaknya  51  warga  negara
              Indonesia teijebak di kapal-kapal berbendera China. Menurut data yang diterima Destructive
              Fishing  Watch  Indonesia,  kontrak  kerja  para  WNI  itu  sudah  habis,  tetapi  belum  dapat
              dipulangkan karena pandemi Covid-19.

              Laporan tersebut bermula dari enam pengaduan yang diterima Fishers Center di Bitung, Sulawesi
              Utara, dan Fishers Center di Tegal, Jawa Tengah. "Mereka terindikasi sebagai korban kerja paksa
              dan perdagangan orang yang kemudian teijebak di kapal berbendera China," kata Koordinator
              Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Abdi Suhufan, Minggu (10/1/2021).

              Awalnya, para WNI itu bekerja di kapal Shung Hang 07, Shung Hang 08, Fu Yuan Yu 6072, Zhan
              Hai OOl, dan Lu Qing Yuan Yu 239. Kini, 45 di antaranya berada di Zhan Hai 003, yang sejak 9
              Januari lego jangkar di perairan Singapura.

              Abdi menjelaskan, upah para pekerja di kapal ikan asing itu belum dibayar perusahaan penyalur.
              "FH, misalnya, dijanjikan upah 300 dollar AS (Rp 4,2 juta) per bulan, tetapi sampai sekarang
              baru menerima Rp 4,1 juta," kata Abdi.

              FH  tiga  kali  pindah  kapal  selama  dua  tahun  bekerja.  Beberapa  korban  lain  kerap  mendapat
              intimidasi dan ancaman dari kapten dan mandor kapal. Mereka juga diperlakukan tak layak,
              seperti mengonsumsi air kekuningan dari keran cuci piring.

              Pengelola Fishers Center Bitung, Laode Hardiani, menambahkan, ke-51 WNI itu disalurkan lima
              perusahaan di Jakarta dan Jawa Tengah. "Dokumen penting, seperti ijazah, sertifikat pelatihan
              keselamatan  dasar,  KTP,  kartu  keluarga,  dan  akta  kelahiran,  ditahan  perusahaan  penyalur,"
              ucapnya.

              Sepanjang 2020, DFW menerima 25 pengaduan dari awak kapal perikanan di kapal asing. Mereka
              mengeluh terjebak praktik kerja tidak adil dan merugikan. Pemerintah diminta lebih responsif
              menyikapi isu perlindungan awak kapal yang disebabkan kesemrawutan tata kelola perekrutan.

              Tumpang tindih perizinan dalam perekrutan dan penempatan pekerja pelaut migran yang ada di
              Kementerian  Perhubungan  dan  Kementerian  Ketenagakerjaan  menyebabkan  pengawasan
              lemah. Banyak perusahaan tak berizin leluasa beroperasi.

              Koordinator  Program  Safeguarding  Against  and  Addressing  Fishers  Exploitation  (SAFE)  Seas
              Project  Baso  Hamdani  mendesak  pemerintah  segera  mengesahkan  rancangan  peraturan
              pemerintah (RPP) tentang perlindungan pekerja migran di sektor kelautan. Undang-Undang (UU)
              Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia mengamanatkan RPP itu
              selesai paling lambat dua tahun sejak UU itu disahkan.

              Pada 30 Desember 2020, Kemenlu RI merepatriasi enam WNI dari kapal ikan berbendera China.
              Mereka dipulangkan perusahaan penyalur, PT Puncak Jaya Samudera, melalui Pulau Galang,
              Kota  Batam,  Kepulauan  Riau.  Salah  satu  dari  keenam  orang  itu  dipulangkan  dalam  kondisi
              meninggal.

              Lewat  pernyataan  tertulis,  Kemenlu  RI  menjelaskan,  para  anak  buah  kapal  (ABK)  yang
              dipulangkan lewat Pulau Galang itu terjebak berbulan-bulan di Laut Arab karena kapal mereka
              dilarang berlabuh di sejumlah negara sejak Covid-19. Pada 10 November 2020, sebanyak 157
              ABK (dua meninggal) di 12 kapal ikan berbendera China direpatriasi lewat Bitung. (NDU)





                                                           22
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28