Page 32 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 32

DIDUKUNG PENGUSAHA, DIPROTES PEKERJA

              Pemerintah  mulai  melakukan  sosialisasi  sejumlah  aturan  turunan  atas  Undang-Undang  No
              11/2020 tentang Cipta Kerja. Salah satu, yang ditunggu adalah Rancangan Peraturan Pemerintah
              (RPP) sektor ketenagakerjaan, khususnya tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), Alih
              Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, Serta Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

              Membuka kesempatan untuk masukan dari banyak pihak, Kepala Bagian Hukum dan Kerjasaina
              Luar  Negeri  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  Agatha  Widianawati  mengatakan,
              rancangan beleid ini sudah dibahas di tingkat tripartit yakni: Pemerintah, perwakilan pengusaha,
              dan serikat pekerja.

              Agatha  kepada  KONTAN,  pekan  lalu  menyatakan,  draf  aturan  ketenagakerjaan  ini  sudah
              diunggah ke website khusus UU Cipta Kerja dan siap untuk menerima masukan publik.

              Poin beleid ini sendiri memperjelas aturan di UU Cipta Kerja. Pertama, PKWT hanya untuk jenis
              pekerjaan  tertentu,  tidak  bisa  untuk  pekerjaan  yang  bersifat  tetap.  Kedua,  pemberian
              kompensasi  kepada  pekerja  PKWT  yang  telah  selesai  menjalankan  tugasnya.  Ketiga,  aturan
              pemberian pesangon akibat adanya PHK.

              UU Cipta Kerja menyebut pesangon pekerja yang sebelumnya dipangkas dari maksimal 32 kali
              upah, dalam RPP hanya 19 kali, terdiri dari 9 kali upah untuk pesangon dan10 kali upah untuk
              uang penghargaan masa kerja.

              Nilai pesangon bahkan bisa kian rendah pada beberapa kasus PHK {lihat infografis). Pebisnis
              semisal, bisa hanya membayar separuh dari nilai pesangon yang ditetapkan.

              Sekjen  Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (OPSI)  Timboel  Siregar  menilai,  aturan  ini
              merugikan pekerja. Contoh soal perusahaan yang mengalami kerugian dua tahun berturut-turut
              bisa melakukan PHK ke pekerja dengan membayarkan pesangon setengah jumlah pesangon
              yang ditetapkan UU.

              "Harusnya ada kepastian, 2 tahun berturut - turut itu karena memang tak mampu lagi atau
              alasan lain. Ini harus diperjelas," kata Timboel kepada KONTAN, Minggu (10/1).

              Karena itu, dia minta dalam RPP ada rincian misalnya wajib ada audit dari eksternal perusahaan
              yang menyatakan bahwa kondisi perusahaan sulit, bukan klaim sepihak perusahaan.

              Atas poin keputusan PHK, pemerintah juga harus mempertanyakan dan meneliti terlebih dahulu.
              Karena pada kenyataannya kalau orang mengganti usaha ingin menghapus kewEyiban dengan
              menutup usahanya. "Padahal dia sebenarnya tak rugi," ujar dia.

              Hanya  menurut  Ketua  Komite  Tetap  Ketenagakerjaan  Kadin  Indonesia  Bob  Azzam,  aturan
              pesangon dalam RPP sektor ketenagakerjaan masih wajar. Kata dia, saat perusahaan sedang
              dalam keadaan kesulitan keuangan, harus ada keringanan dalam membayar pesangon saat PHK.

              "Kalau rugi atau force majeur wajar diberi keringanan pesangon," kata Bob, Minggu (10/1). Bob
              juga mengusulkan dibentuknya skema lain dalam pembayaran pesangon karyawan PHK, agar
              tak memberatkan perusahaan saat mengalami kerugian atau pailit.

              Usulan  Bob,  ada  skema  dana  pesangon  yang  disiapkan  jikalau  ke  depan  perusahaan  harus
              melakukan PHK.

              "Pesangon bisa dibentuk dalam dana masa depan, jangan tergantung keuangan perusahaan saat
              ada PHK sudah pasti sulit," ujar dia. Dengan begitu, saat PHK, pekerja bisa mendapatkan uang
              pesangon lebih besar.


                                                           31
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37