Page 350 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 AGUSTUS 2020
P. 350

ANGGOTA DPRD BEKASI BERIKAN APRESIASI SUBSIDI PEKERJA PESERTA BP
              JAMSOSTEK
              Cikarang,  Bekasi  -  Anggota  DPRD  Kabupaten  Bekasi  asal  Fraksi  PDI  Perjuangan  Nyumarno
              mengapresiasi rencana pemerintah memberikan subsidi bantuan sosial bagi para pekerja swasta
              peserta BP Jamsostek yang memiliki upah di bawah Rp5 juta sebulan.

              "Ini merupakan bentuk upaya positif pemerintah membantu sektor pekerja dengan memberikan
              bantuan sosial di tengah pandemi COVID-19," kata Anggota DPRD Kabupaten Bekasi asal Fraksi
              PDI Perjuangan Nyumarno di Cikarang, Senin.

              Nyumarno mengaku di masa pandemi ini dirinya kerap menjumpai fakta di lapangan mengenai
              pelanggaran  oleh  pemberi  kerja  dengan  memberlakukan  prinsip    No  Work  No  Pay    atau
              meliburkan karyawan tanpa memberi upah sehingga berdampak langsung terhadap kehidupan
              perekonomian pekerja.

              "Subsidi pekerja ini tentu dibutuhkan oleh para pekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan
              hidup keluarga, anak sekolah, serta kebutuhan lain di masa pandemi namun jangan jadikan
              bantuan sosial ini untuk melemahkan isu perjuangan buruh," katanya.

              Pemerintah berencana memberikan subsidi pekerja sebesar Rp600.000 sebulan selama empat
              bulan mulai Bulan September 2020. Saat ini regulasi mengenai teknis pemberian bantuan itu
              tengah dibahas pemerintah, bisa berupa peraturan menteri ataupun petunjuk pelaksanaan dan
              teknis dari BP Jamsostek.

              Nyumarno mengusulkan pemerintah melakukan pendataan sesuai fakta secara riil berdasarkan
              kondisi di lapangan sehingga bukan menjadi bentuk eksodus pemberi kerja untuk melakukan
              pemotongan upah dengan cara melaporkan upah pekerja menjadi di bawah Rp5 juta sebulan
              kepada BP Jamsostek.

              "Implementasinya harus benar-benar mengakomodir seluruh pekerja dengan upah di bawah Rp5
              juta sebulan, termasuk meskipun upah di atas Rp5 juta saat pelaporan awal badan usaha kepada
              BP Jamsostek namun menjadi turun di bawah angka itu saat pandemi COVID-19 dengan alasan
              apapun," katanya.

              Dia juga meminta pekerja honorer non-ASN yang terdaftar pada BP Jamsostek dan memiliki
              upah di bawah Rp5 juta sebulan masuk sebagai salah satu katagori penerima subsidi tersebut.

              "Kemudian nonASN penerima upah dari APBN dan APBD seperti pemerintah desa dan kelurahan,
              staf desa, BPD, LPM, Karang Taruna, hingga pengurus RT/RW yang berpenghasilan di bawah
              Rp5 juta sebulan juga dimasukkan ke dalam penerima subsidi ini sepanjang mereka terdaftar
              kepesertaan di BP Jamsostek," ungkapnya.

              Skema  bantuan  sosial  subsidi  pekerja  juga  harus  diberikan  kepada  pekerja  yang  terkena
              Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) saat pandemi baik yang sedang dalam proses maupun yang
              telah memiliki kekuatan hukum tetap.

              "Saya mengusulkan agar subsidi pekerja ini diprioritaskan terlebih dahulu kepada korban PHK
              yang tidak punya penghasilan. Ada yang masih dalam proses tapi upahnya sudah tidak dibayar
              oleh pengusaha, ada juga yang sudah resmi di PHK.namun pesangonnya tidak seberapa. Padahal
              pada saat mereka aktif bekerja, mereka juga bagian dari peserta BPJS Ketenagakerjaan. Oleh
              karena  itu,  korban  PHK  yang  tidak  memiliki  penghasilan  lagi  harusnya  didahulukan  dan
              diutamakan, barulah kemudian kepada pekerja yang memiliki upah di bawah Rp5 juta sebulan,"
              katanya..



                                                           349
   345   346   347   348   349   350   351   352   353   354   355