Page 675 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 AGUSTUS 2020
P. 675

Namun, ia meminta pemberian bantuan dari pemerintah tidak hanya diberikan kepada karyawan
              yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.
              "Pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta dan tidak terdaftar di BPJS Naker pun harus mendapat
              subsidi upah juga. Pakai saja data TNP2K Sekretariat Wapres atau data BPJS Kesehatan," kata
              Said Iqbal, dikutip Tribunnews.com dari Kompas.com.

              Said  Iqbal  mengatakan,  semua  buruh  adalah  rakyat  Indonesia  yang  membayar  pajak  dan
              mempunyai hak yang sama sebagaimana diatur dalam konstitusi.

              Prinsipnya  seluruh  karyawan  bergaji  di  bawah  Rp  5  juta  harus  mendapatkan  bantuan  dari
              pemerintah tanpa melihat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

              "Jadi negara tidak boleh melakukan diskriminasi," kata Said Iqbal.

              Menurut Said, karyawan yang tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan bukanlah
              salah karyawan tersebut.

              "Yang salah adalah pengusaha yang nakal, bukan buruhnya. Karena menurut Undang-Undang
              BPJS,  yang  wajib  mendaftarkan  buruh  sebagai  peserta  BPJS  Ketenagakerjaan  adalah
              pengusaha," ucapnya.

              Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and
              Finance, Tauhid Ahmad.

              Taufiq menilai tidak adil jika pemerintah hanya memberi bantuan pada 13,8 juta pekerja yang
              terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

              Padahal secara keseluruhan, jumlah buruh dan pegawai di Indonesia mencapai 52,2 juta orang.

              "Ada ketidakadilan kalau itu diterapkan dan kenapa hanya peserta BPJS yang dijadikan dasar,
              semua merasa berhak kalau konteksnya pekerja," ujarnya.

              - Dinilai Tak Efektif dan Tak Tepat Sasaran  Taufiq juga menilai, pemberian insentif kepada
              karyawan swasta tersebut berisiko kian meningkatkan kesenjangan masyarakat.

              Dia menilai Pemerintah tidak memperhitungkan besaran pengeluaran antar masyarakat dengan
              gaji di bawah Rp 5 juta tersebut.

              "Untuk penghasilan upah buruh saja Rp 2,9 juta per bulan. Jadi yang Rp 5 juta itu bukan buruh,
              dan dia juga dapat (bantuan). Ini timbulkan kesenjangan antara Rp 2,9 juta sampai yang Rp 5
              juta," ujar dia.

              Taufiq menambahkan, masyarakat dengan gaji mendekati Rp 5 juta tidak masuk dalam kategori
              penduduk miskin.

              Penduduk  yang  masuk  dalam  kategori  miskin  adalah  mereka  yang  memiliki  pengeluaran  di
              bawah Rp 2,3 juta per bulan.

              BLT  kepada  karyawan  tersebut  tidak  akan  tepat  sasaran  dan  tidak  akan  efektif  dalam
              mendongkrak kinerja perekonomian.

              (  Tribunpekanbaru.com  / Tribunnews.com / Suci Bangun DS, Kompas.com / Ihsanuddin )

              Penulis: Suci Bangun Dwi Setyaningsih  Editor: Tiara Shelavie.




                                                           674
   670   671   672   673   674   675   676   677   678   679   680