Page 702 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2021
P. 702

Dalam surat tersebut besaran disebutkan THR keagamaan diberikan kepada pekerja/buruh yang
              telah mempunyai masa kerja satu bulan secara terus menerus, atau lebih.
              Selain itu, THR juga diberikan kepada pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan
              pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) alias pegawai tetap dan
              perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau karyawan kontrak.

              Dari  sisi  besaran,  bagi  pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus
              menerus atau lebih diberikan THR sebesar satu bulan upah. Sementara itu, bagi pekerja/buruh
              yang mempunyai masa kerja satu bulan tapi kurang dari 12 bulan, maka THR diberikan secara
              proporsional.

              Perhitungan THR proporsional adalah masa kerja dibagi dengan 12, lalu dikali satu bulan upah.
              Sebagai contoh, karyawan A bekerja di perusahaan selama tiga bulan, dengan upah per bulan
              sebesar Rp6 juta.

              Dengan demikian, tiga bulan dibagi 12, lalu dikalikan Rp6 juta. Maka, THR proporsional yang
              diperoleh pekerja/buruh tersebut sebesar Rp1,5 juta.

              Sementara itu, bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, maka upah
              satu bulan dihitung berdasarkan dua perhitungan.

              Pertama, pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, maka upah satu bulan
              dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya
              keagamaan.

              Kedua, pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, maka upah satu bulan
              dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima setiap bulan selama masa kerja.

              Menaker mewajibkan perusahaan untuk membayarkan THR tersebut H-7 Lebaran.

              "THR merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayar pengusaha kepada pekerja atau
              buruh paling lama tujuh hari sebelum hari raya keagamaan tiba," tutupnya.

              (wol/cnnindonesia/ari/p1).

































                                                           701
   697   698   699   700   701   702   703   704   705   706   707