Page 160 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 AGUSTUS 2021
P. 160
Judul Turbulensi Industri Penerbangan Terus Berlanjut
Nama Media kompas.com
Newstrend Dampak Virus COVID-19 dalam Ketenagakerjaan
Halaman/URL https://money.kompas.com/read/2021/08/02/110417726/turbulensi-
industri-penerbangan-terus-berlanjut
Jurnalis redaksi
Tanggal 2021-08-02 11:04:00
Ukuran 0
Warna Warna
AD Value Rp 17.500.000
News Value Rp 52.500.000
Kategori Ditjen PHI & Jamsos
Layanan Korporasi
Sentimen Negatif
Narasumber
positive - Denon Prawiraatmadja (Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Indonesia
(INACA)) INACA berharap penyelenggaraan vaksin bisa dilakukan lebih cepat dan dalam jumlah
besar, karena vaksin diharapkan bisa menjadi solusi atas masalah kesehatan dan perekonomian.
Kunci utama semua maskapai dan kegiatan ekonomi adalah penanganan pandemi
neutral - Toto Pranoto (Pengamat dari Lembaga Manajemen FEB UI) Maka cost restructuring
jadi langkah prioritas, terutama penyederhanaan jumlah pesawat, karena leasing cost sangat
mahal. Penyederhanaan jumlah SDM juga jamak dikerjakan supaya overhead cost bisa ditekan
neutral - Toto Pranoto (Pengamat dari Lembaga Manajemen FEB UI) Mudah2-mudahan juga
captive market seperti penerbangan Umrah bisa dibuka kembali. Jadi dua maskapai ini bisa
sedikit tarik nafas
Ringkasan
Pandemi covid-19 masih membawa turbulensi bagi industri penerbangan di dunia, tak terkecuali
di Indonesia. Kerugian dan karyawan yang dirumahkan menjadi opsi yang sulit dihindari. Kondisi
itu setidaknya tampak dari dua maskapai penguasa langit Indonesia, yakni PT Garuda Indonesia
Tbk (GIAA) dan Lion Air Group. Merujuk catatan Kontan.co.id, GIAA sepanjang kuartal pertama
2021 mencetak rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 384,35
juta dollar AS, membengkak dari periode yang sama tahun 2020 yang berjumlah 120,16 juta
dollar AS.
TURBULENSI INDUSTRI PENERBANGAN TERUS BERLANJUT
Pandemi covid-19 masih membawa turbulensi bagi industri penerbangan di dunia, tak terkecuali
di Indonesia. Kerugian dan karyawan yang dirumahkan menjadi opsi yang sulit dihindari.
Kondisi itu setidaknya tampak dari dua maskapai penguasa langit Indonesia, yakni PT Garuda
Indonesia Tbk (GIAA) dan Lion Air Group. Merujuk catatan Kontan.co.id, GIAA sepanjang kuartal
159

