Page 161 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 AGUSTUS 2021
P. 161
pertama 2021 mencetak rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
sebesar 384,35 juta dollar AS, membengkak dari periode yang sama tahun 2020 yang berjumlah
120,16 juta dollar AS.
Dari sisi total pendapatan, perolehan GIAA di tiga bulan pertama tahun 2021 hanya sebanyak
353,07 juta dollar AS. Perolehan ini anjlok 54,03 persen jika dibandingkan total pendapatan
kuartal I 2020 yang sebesar 768,12 juta dollar AS.
Di tempat lain, Lion Air Group pun mengatur strategi untuk menjaga kontinuitas perusahaan.
Tetap beroperasi secara bertahap, Lion Air Group rata-rata mengoperasikan 10-15 persen dari
kapasitas normal sebelum pandemi Covid-19 yakni rerata 1.400 penerbangan per hari.
Lion Air Group juga mengumumkan pengurangan tenaga kerja dengan merumahkan karyawan
(status tidak Pemutusan Hubungan Kerja/PHK) menurut beban kerja (load) di unit masing-
masing yaitu kurang lebih prosentase 25-35 persen karyawan dari 23.000 karyawan.
Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja
menyampaikan, pihaknya merasa prihatin dengan situasi maskapai di Indonesia saat ini. Selama
pandemi covid-19 belum teratasi, industri penerbangan dan perusahaan maskapai masih akan
tertekan.
Dia berharap, vaksinasi bisa diakselerasi sehingga kekebalan kelompok (herd immunity) bisa
lebih cepat terbentuk. Dengan begitu, mobilitas masyarakat dan penggunaan transportasi udara
bisa lekas pulih.
"INACA berharap penyelenggaraan vaksin bisa dilakukan lebih cepat dan dalam jumlah besar,
karena vaksin diharapkan bisa menjadi solusi atas masalah kesehatan dan perekonomian. Kunci
utama semua maskapai dan kegiatan ekonomi adalah penanganan pandemi," kata Denon saat
dihubungi Kontan.co.id, Minggu (1/8/2021).
Pengamat dari Lembaga Manajemen FEB UI Toto Pranoto mengamini, situasi industri
penerbangan belum menujukkan tren pemulihan (recovery) pada tahun ini. Apalagi pandemi
yang belum sepenuhnya terkendali membuat mobilitas manusia dan barang masih sangat
terbatas.
International Air Transport Association (IATA) juga memproyeksikan pada 2021 global airlines
masih akan membukukan kerugian. Oleh sebab itu, GIAA dan Lion Air Group pun menjalankan
strategi yang juga diterapkan oleh banyak maskapai lainnya di dunia.
"Maka cost restructuring jadi langkah prioritas, terutama penyederhanaan jumlah pesawat,
karena leasing cost sangat mahal. Penyederhanaan jumlah SDM juga jamak dikerjakan supaya
overhead cost bisa ditekan," kata Toto.
Di sisi lain upaya diversifikasi pendapatan juga harus terus ditingkatkan, terutama dari bisnis
angkutan kargo. Untuk utilisasi load factor penumpang, maka strategi promosi seperti menjual
tiket secara diskon dan promosi lainnya perlu diperhatikan.
"Mudah2-mudahan juga captive market seperti penerbangan Umrah bisa dibuka kembali. Jadi
dua maskapai ini bisa sedikit tarik nafas," pungkas Toto. (Ridwan Nanda Mulyana | Handoyo)
160

