Page 11 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 11
MUCHTAR PAKPAHAN, DARI SERUAN MOGOK HINGGA DIPENJARA PADA ERA ORBA
JAKARTA - Pada Rabu 24 Mei 1995, setelah sembilan bulan mendekam di Rutan Tanjung Gusta,
Muchtar Pakpahan akhirnya dapat menghirup udara segar.
Sebuah acara syukuran pun digelar di Kantor Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI),
Utankayu Utara, Jakarta Timurr. Ucapan syukur ditandai dengan pelepasan dua ekor merpati
putih. Di kaki kedua burung itu diikat potongan kertas bertuliskan, Teruskan Perjuangan dan
Salam Untukmu Buruh.
"Pelepasan burung ini juga sebagai lambang perdamaian, cinta kasih, syukur atas kebebasan,
kesetiaan terhadap perjuangan serta meneruskan cita-cita perjuangan," ujar Muchtar, dikutip
dari arsip Harian Kompas, 26 Mei 1995.
Muchtar ditahan atas tuduhan mendalangi aksi unjuk rasa buruh di Medan pada April 1994.
Ribuan buruh kala itu menggelar rangkaian aksi unjuk rasa di sejumlah kota. Mereka melakukan
mogok sampai aksi turun ke jalan, menyerukan tuntutan kenaikan upah, dan segala macam
aspirasi.
Aksi tersebut kemudian menimbulkan ekses berupa kerusuhan. Beberapa tokoh SBSI ditangkap,
termasuk Muchtar, karena dianggap sebagai penggerak unjuk rasa buruh.
Ketua Umum SBSI itu divonis tiga tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Medan. Kemudian,
di tingkat banding, hukumannya diperberat menjadi empat tahun. Namun, permohonan kasasi
Muchtar dikabulkan oleh Mahkamah Agung (MA). Ia dinyatakan bebas murni.
MA menilai, telah terjadi kesalahan penerapan hukum oleh pengadilan tingkat pertama, yakni
salah menafsirkan unsur menghasut dari pasal 160 KUHP.
"Kami tidak memusuhi pemerintah atau berbagai pihak lainnya. Perjuangan kami demi
pembaruan organisasi perburuhan, kebebasan berserikat, perbaikan nasib buruh sekaligus
memperbaiki kesejahteraan bangsa," ucap Muchtar.
Membela buruh Muchtar tidak pernah bercita-cita menjadi praktisi hukum, apalagi memimpin
serikat buruh. Saat masih SMA, Muchtar ingin menjadi dokter. Begitu lulus, ia melanjutkan kuliah
di Fakultas Kedokteran Universitas Methodis, Medan, Sumatera Utara, atas bantuan sang kakak,
Budianto.
Namun, perjalanan hidup Muchtar berubah. Ia kerap membaca artikel koran mengenai aktivitas
sejumlah tokoh pergerakan mahasiswa tahun 1970-an, mulai dari Hariman Siregar (Ketua DM
UI), Muslim Tampubolon (Ketua DM ITB), Nelson Parapat (aktivis GMKI USU Medan) hingga Sufri
Helmi Tanjung (tokoh HMI IAIN Medan).
Pria kelahiran 21 Desember 1953 itu pun meninggalkan kuliah kedokterannya, kemudian
mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Jenjang pendidikannya ia
teruskan hingga meraih gelar Doktor Ilmu Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia pada
1993. Hingga akhir hayat, Muchtar dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan nasib
buruh dan rakyat kecil.
Ia merupakan salah satu tokoh pendiri SBSI pada 1992, serikat buruh independen pertama di
Indonesia. Saat itu, rezim Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto hanya
mengakui satu serikat buruh, yakni Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).
Kendati demikian, kehadiran SPSI dinilai belum banyak mengubah kualitas hidup pekerja.
Bahkan, SPSI dianggap tak memiliki daya tawar yang kuat menghadapi pengusaha.
10

