Page 12 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 12

Menurut Muchtar, campur tangan pemerintah, pengusaha, dan aparat keamanan terlalu besar
              dalam mengelola atau memilih pengurus SPSI. Hal itu ikut mengurangi kemampuan organisasi
              menyalurkan aspirasi pekerja. Tidak jarang SPSI seperti tidak mau tahu dengan persoalan yang
              dihadapi pekerja. Itu sebabnya Muchtar bersedia menjadi Ketua Umum SBSI.

              "SBSI didirikan langsung oleh buruh sehingga saya mau aktif di dalamnya. Tegasnya bukan lagi
              sekadar membantu, seperti charity , tetapi bagaimana agar buruh mampu membela nasibnya
              sendiri," ujar Muchtar, dikutip dari arsip Harian Kompas , 18 September 1993.

              Perspektif baru atas masalah perburuhan diperoleh Muchtar pada 1984, sejak SPSI bersikap pasif
              membiarkan para aktivis buruh diinterogasi aparat keamanan. Padahal, apa yang dibuat aktivis
              buruh  saat  itu  hanya  mendirikan  PUK  (Pengurus  Unit  Kerja)  SPSI  di  berbagai  perusahaan.
              "Eksistensi SPSI, akhirnya saya lihat sekadar untuk security approach mengamankan buruh,"
              ucap dia.

              Seruan mogok Pada Februari 1994, Muchtar mengirimkan surat kepada Menteri Tenaga Kerja
              Abdul Latief. Isinya, pernyataan sikap SBSI tentang kondisi perburuhan di Indonesia. Dalam
              surat itu terlampir seruan mogok bagi para buruh. SBSI menyerukan kepada anggotanya untuk
              mogok bersama pada 11 Februari 1994.

              Aksi tersebut dilakukan di tempat kerja masing-masing selama satu jam, dari pukul 08.00 hingga
              pukul 09.00. Cara ini dipakai Muchtar untuk memprotes kebijaksanaan Menteri Tenaga Kerja.

              "Ya satu jam cukup. Kita enggak mau buat ribut. Satu jam sudah cukup. Dari situ kita tahu,
              mana yang benar, mana yang kurang benar," ujar Muchtar, dikutip dari arsip Harian Kompas, 3
              Februari 1994.

              Dalam surat tersebut, Muchtar mengajukan sejumlah tuntutan, antara lain, meminta pemerintah
              membuka  keran  kebebasan  berserikat  bagi  buruh  dan  kenaikan  upah  minimum  atas  ukuran
              dasar hidup layak saat itu.
              Muchtar  mengatakan,  pada  4  Januari  1994,  Menaker  menerbitkan  keputusan  yang  isinya
              memberi kebebasan buruh berserikat di luar SPSI serta mengurangi campur tangan militer dalam
              konflik perburuhan. Namun, 17 Januari 1994, Menaker kembali mengeluarkan peraturan.  "Meski
              tidak  disebut  eksplisit,  menyatakan,  SPSI  merupakan  satu-  satunya  organisasi  buruh,"  kata
              Muchtar.

              Terkait upah buruh layak, kata Muchtar, SBSI sudah mengampanyekan hal itu sejak lama. Melalui
              Fraksi PDI, akhirnya dalam GBHN tercantum perlunya kebebasan berserikat dan upah buruh
              layak. Akan tetapi, pemerintah ketika itu masih memakai acuan kebutuhan fisik minimum (KFM).

              Muchtar menilai, pemerintah telah bersikap arogan. SBSI beberapa kali minta bertemu Menaker
              untuk memberi masukan, tetapi tidak ditanggapi. "Kita mau nyumbang pikiran, ngasih masukan,
              tetapi enggak ditanggapi. Kita enggak pernah diajak dialog, enggak dikasih waktu. Ya inilah jalan
              yang kita pakai," tutur dia.

              Selain  Ketua  Umum  SBSI,  Muchtar  pernah  menjabat  sebagai  anggota  Governing  Body  ILO
              mewakili Asia dan Vice President World Confederation of Labor, ILO. Pada 2003, ia meninggalkan
              serikat buruh dan mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat.
              Kemudian, pada 2010, Muchtar memilih fokus di kantor pengacara Muchtar Pakpahan Associates
              dan mengajar di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI). Hingga beberapa tahun
              terakhir, Muchtar masih aktif membela hak-hak buruh, salah satunya dengan terlibat dalam aksi
              penolakan terhadap omnibus law UU Cipta Kerja. Kini, pejuang hak buruh itu telah berpulang.
              Muchtar  tutup  usia  pada  21  Maret  2021  karena  penyakit  kanker,  di  Rumah  Sakit  Siloam
              Semanggi, Jakarta, sekitar pukul 22.30 WIB.
                                                           11
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17