Page 138 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 138

KEMENAKER DITUDING GANTUNG KEPASTIAN BEASISWA ANAK BURUH KORBAN
              KECELAKAAN KERJA
              Kementerian  Ketenagakerjaan  dituding  menggantung  kepastian  pemberian  beasiswa  kepada
              anak dari peserta BP Jamsostek atau BPJS Ketenagakerjaan yang meninggal dunia atau cacat
              total  tetap  akibat  kecelakaan  kerja.  Padahal  rencana  ini  sudah  diatur  dalam  Peraturan
              Pemerintah  (PP)  nomor  82  2019  tentang  Perubahan  atas  PP  Nomor  44  2015  tentang
              Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).

              Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, perubahan tersebut membuat
              manfaat yang diterima pekerja mengalami peningkatan manfaat yang cukup signifikan. Adapun
              manfaat  yang  meningkat  adalah  penggantian  biaya  tranportasi,  santunan  sementara  tidak
              mampu bekerja, biaya penunjang diagnostik dan santunan berkala.

              "Ada juga bantuan beasiswa baik jumlah anak maupun nilai beasiswa, dan biaya pemakaman.
              Sementara itu biaya alat bantu dengar, biaya kacamata dan biaya homecare diberlakukan dari
              yang sebelumnya tidak ada. Tentunya peningkatan manfaat JKK dan JKm ini sangat mendukung
              pekerja dan keluarganya," ujar Timboel, Jakarta, Rabu (24/3).

              Salah satu manfaat yang meningkat dengan cukup signifikan adalah tentang beasiswa kepada
              anak dari peserta yang meninggal dunia atau cacat  total tetap akibat kecelakaan kerja, dari
              tingkat Taman Kanak-kanan (TK) sampai Perguruan Tinggi, maksimal 2 anak. Tingkat TK dan
              SD mendapat beasiswa Rp 1,5 juta per tahun maksimal selama 8 tahun, tingkat SMP mendapat
              Rp2 juta per tahun (maksimal 3 tahun), tingkat SMA mendapat Rp3 juta per tahun (maksimal 3
              tahun), dan tingkat Perguruan Tinggi mendapat Rp12 juta per tahun (maksimal 5 tahun).

              "Pasal 25 ayat (6) dan Pasal 34 ayat (5) PP Nomor 82 Tahun 2019 ini mengamanatkan ketentuan
              lebih lanjut mengenai tata cara pemberian dan persyaratan memperoleh beasiswa Pendidikan
              bagi anak dari peserta yang meninggal dunia atau cacat total tetap akibat kecelakaan kerja diatur
              dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker)," jelas Timboel.

              Timboel melanjutkan, manfaat beasiswa yang baik tersebut ternyata sampai saat ini belum juga
              terealisir mengingat Permenaker belum juga terbit sehingga anak-anak yang seharusnya sudah
              mendapatkan beasiswa ternyata belum juga memperolehnya. Pada saat tahun ajaran baru tahun
              lalu seharusnya beasiswa ini dapat mendukung anak-anak masuk sekolah, demikian juga tahun
              ajaran baru tahun ini akan tiba, khususnya untuk anak-anak yang akan masuk perguruan tinggi.
              "Hingga saat ini Menteri Ketenagakerjaan tidak pernah menginformasikan alasan keterlambatan
              pembuatan Permenaker. Di lapangan pihak BPJamsostek yang cenderung disalahkan atas belum
              diterimanya beasiswa ini, padahal pihak BPJamsostek belum berani memberikan beasiswa ini
              karena belum adanya Permenaker yang diamanatkan PP No. 82 Tahun 2019 tersebut," jelasnya.

              Direksi BPJamsostek, kata Timboel, hanya bisa menjanjikan dan menjamin hak atas beasiswa ini
              akan  diberikan  setelah  Permenaker  keluar.  Dananya  sudah  tersedia  dan  siap  diberikan.
              Tentunya,  bila  BPJamsostek  memberikan  beasiswa  tanpa  hadirnya  Permenaker  maka  hal
              tersebut bisa menjadi masalah hukum bagi Direksi BPJamsostek nantinya.

              "Sejak diundangakan PP Nomor 82 Tahun 2019 hingga saat ini sudah hampir satu tahun empat
              bulan. Mengapa membuat Permenaker bisa lama seperti ini sehingga menggantung hak anak-
              anak atas beasiswa? Masalahnya dimana dan bagaimana perkembangannya, hingga saat ini Ibu
              Menteri Ketenagakerjan tidak menginformasikannya kepada masyarakat," tandasnya. [azz].







                                                           137
   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143