Page 77 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 77

perlindungan tenaga kerja migran Indonesai di Luar negeri masih menjadi persoalan krusial yang
              belum bisa dipecahkan secara tuntas dan sisitemtik.
              Urgensi Pelindungan Persolaan perlindungan terhadap tenaga kerja migran Indonesai di Luar
              negeri di nilai masih sangat rendah. Ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai persoalan yang
              menimpa TKI kita di luar negeri kurang mendapat advokasi dan perlindungan yang memadai.

              Bahkan perbagai persoalan yang menimpa TKI/TKW kita cenderung dibiarkan begitu saja. Dan
              yang paling parah menimpa tenaga kerja wanita (TKW). Selain masalah upah yang tak di bayar
              atau tidak sesuai standar ketenagakerjaan, persoalan yang sering kali muncul dan dialami para
              TKW kita di luar negeri adalah masalah kekerasan.

              Sebagian  besar  TKW  kita  mendapat  perlakuan  dan  tindakan  kekerasan  baik  kekerasan  fisik,
              psikologis maupun kekerasan seksual dari keluarga majikannya Pengakuan akan sumbangan
              besar TKI bagi perekonomian tak mampu mengubah nasib mereka, terutama para TKW yang
              tidak terdidik dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kondisi para TKW tak terdidik kita
              di luar negeri bagaikan "budak" yang mudah dipermainkan dan diperlakukan sewenang-wenang.

              Dan ironisnya, kasus kekerasan terhadap TKI kita di luar negeri ini tak pernah berhenti, atau
              setidaknya berkurang, justru kasusnya semakin membengkak. Kekerasan terhadap TKI di luar
              negeri  akhirnya  menjadi  "menu  bulanan"  kita.  Dan  yang  paling  memprihatinkan  lagi,
              perlindungan dari pemerintah yang dinilai sangat rendah.

              Sayang,  besarnya  kontribusi  para  TKI  tersebut  masih  belum  diimbangi  pemerintah  dalam
              memberikan  pelayanan  dan  perlindungan  yang  memadai.  Padahal,  hal  itulah  yang  menjadi
              harapan  semua  orang  atas  berdirinya  Badan  Nasional  Penempatan  dan  Perlindungan  TKI
              (BNP2TKI) dulu.

              Hingga saat ini, masih banyak TKI yang tak berdaya menjadi korban kesewenang-wenangan
              perusahaan dan majikan tempat mereka bekerja di luar negeri. Termasuk tindak kejahatan -
              yang kadang juga dilakukan aparat- saat mereka pulang, bahkan sejak menginjakkan kaki di
              bandara di tanah air.

              Meskinpun sudah ada perjanjian bilateral antara pemerintah dengan negara tujuan penempatan
              TKI, akan tetapi mengapa tindak kekerasan terhadap TKI/TKW kita tak kunjung berhenti atau
              setidaknya berkurang?.

              Selama  ini  pemerintah  kita  masih  sebatas  atau  sekedar  melakukan  perjanjian  pada  tahap
              "penempatan"  saja,  belum  menyentuh  secara  kongkrit  terkait  dengan misalnya  kalau  terjadi
              persoalan  sosial  dan  hukum  yang  menimpa  para  TKI.  Terutama  masalah  perlindungan  atau
              advokasi sosial dan hukum, ketika para TKI kita di luar negeri tertimpa masalah hukum.

              Perlindungan Hukum Perlindungan adalah kata kunci untuk menjawab segala persoalan tenaga
              kerja migran Indonesia di luar negeri. saat ini kita sudah mempunya undang-undang baru yang
              mengatur tentang masalah perlindungan buruh migran, yakni Undang-Undang Nomor 18 Tahun
              2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI).

              Sehingga  secara  hukum,  landasan  hukum  sangat  kuat.  Perlindungan  buruh  migram  menjadi
              sebuah keniscayaan, ketika persoalan buruh migran masih menjadi persoalan reguler negeri ini.
              Selain itu, kontribusi pekerja migran, terutama devisi yang diterima negara dari keringat pekerja
              migran sangat besar, sementara perlindungan tenaga kerja migran masih dirasa sangat minim.

              Secara yuridis, landasan hukum sudah cukup kuat. Apalagi didukung dengan kondisi sosiologis,
              mana banyak kasus tenaga kerja migran asal Jawa Timur di luar negeri yang bermasalah dan
              menghadapi masalah. Selain itu, jawa timur enjadi salah satu provinsi penyumbang tenaga kerja
              migran Indonesia di luar negeri cukup besar, begitu juga penyumbang devisa sangat besar.
                                                           76
   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82