Page 163 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JUNI 2021
P. 163

Selain itu mereka juga dibatasi berkomunikasi dan ponselnya disita. Karena itu, Fauziah dan
              rekan-rekannya pun memilih untuk kabur.
              Munisah bercerita, sebelum kabur, anaknya sempat menelepon dan memberitahukan niatnya.

              "Sebelum dia (Fauziah) kabur itu, dia sempat nelpon, katanya 'ibu-ibu saya mau lari (kabur),
              terus saya bilang jangan-jangan'," kata Munisah, saat ditemui di rumahnya yang berada di Desa
              Labulie, Lombok Tengah, Jumat (18/6/2021).

              "Katanya dia tidak betah, karena makannya hanya sedikit dikasih sarapan hanya pakai kolak,
              terus katanya tidak dikasih ke luar, sangat ketat, dan handphone-nya sering disita," kata Munisah
              sambil berlinang air mata.

              Munisah mengaku sangat rindu dengan anaknya. Namun karena keterbatasan biaya, ia tak bisa
              menjenguk anaknya yang dirawat di rumah sakit. Sang anak hanya dijenguk oleh sang ayah
              yang terbang ke Malang.

              "Saya pingin sekali lihat dia, tapi tidak punya uang, itupun kemarin keberangkatan bapaknya
              dapat ngutang," kata Munisah.

              Salah  satu  kejanggalan  adalah  gaji  yang  dijanjikan  pada  calon  TKW  akan  dipekerjakan  di
              Singapura.

              Aryadi mengaku sudah mengecek perjanjian antara perekrut dengan calon TKW.

              Di perjanjian tersebut tertulis, para calon TKW akan menerima gaji sebesar 500 dolar Singapura.
              Selama 4 hingga 6 bulan pertama, gaji mereka akan dipotong 420 dolar untuk mengganti biaya
              pemberangkatan ke Singapura.

              "Jumlah gaji sisa jika dirupiahkan sekitar Rp 1,2 juta per bulan selama 6 bulan terakhir, seperti
              itu layak atau tidak untuk hidup di Singapura? Mungkin itu juga salah satu alasan mereka lari,"
              kata Aryadi, Kamis (17/6/2021).
              Aryadi  mengaku  sudah  memanggil  perusahaan  yang  merekrut  mereka  untuk  meminta
              penjelasan terkait kejadian tersebut.

              "Hari  pertama  saat  informasi  kejadian,  kami  langsung  memanggil  dan  meminta  perusahaan
              perekrut,  perusahaan  pengerah  pekerja  migran  Indonesia  (P3MI)  cabang  di  Mataram  yang
              merekrut memberi penjelasan terkait lima CTKW tersebut," kata Aryadi.

              Ia menyebut para calon TKW tersebut sudah dua bulan tinggal di BLK Malang.

              Mereka dilatih bahasa Inggris dan akan segera berangkat. Bahkan ada sejumlah CTKW lain yang
              siap berangkat karena telah mendapatkan majikan.

              Padahal seharusnya, Calon TKW asal NTB harus dilatih di BLK yang ada di NTB yaitu di Kabupaten
              Lombok Timur, bukan di BLK daerah lain.

              "Atas peristiwa ini, kami akan meningkatkan pemntauan perjalanan pekerja migran di NTB, sejak
              mereka direkrut hingga ditempatkan di negara tujuan, termasuk hak mereka atas perlindungan
              saat berada di negeri orang," kata Aryadi.

              Hal  senada  juga  disampaikan  Kepala  Badan  Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (BP2MI),
              Benny Rhamdani.





                                                           162
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168