Page 203 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 203

Adapun tuntutan yang mereka bawa diantaranya yakni, 1. Menolak Omnibus Law Massa aksi
              mendesak agar Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan Undang-Undang Nomor
              11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              2. Mendesak Untuk DPRD Jatim membuat Perda(Peraturan Daerah) tentang Jaminan Pesangon
              di Jawa Timur.

              Sekretaris PERDA KSPI FSPMI Jawa Timur, Jazuli melalui rilis tuntutan menjelaskan bahwa Perda
              Jatim tentang Jaminan Pesangon ini merupakan janji Pemprov dan DPRD Jatim pada 2019 lalu.
              Namun  hingga  saat  ini  belum  juga  dilakukan  pembahasan  terkait  Perda  Jaminan  Pesangon
              tersebut.

              Adanya Perda ini merupakan solusi untuk meminimalisir konflik atau perselisihan antara pekerja
              atau  buruh  dengan  pengusaha.  Selain  itu  adanya  Perda  Jaminan  Pesangon  tersebut  dapat
              meringankan beban pengusaha dalam hal membayar pesangon.

              Ini  karena  konsepnya  Jaminan  Pesangon  ini  pembayarannya  dicicil  setiap  bulannya.  Secara
              ekonomi  juga  menguntungkan  Pemerintah  Provinsi  Jawa  Timur,  karena  pengelolaan  dana
              tersebut diserahkan kepada Bank Jatim.

              3. Mendesak Gubernur Jatim untik membentuk Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Ketenagakerjaan
              Hal  ini  sebagaimana  amanat  Pasal  60  ayat  (1)  Perda  Jatim  No.  8  Tahun  2016  tentang
              Penyelenggaraan  Ketenagakerjaann.  Dengan  adanya  Tim  URC  yang  terdiri  dari  Pemerintah
              Daerah,  Kepolisian,  BPJS  Kesehatan  dan  BPJS  Ketenagakerjaan,  organisasi  Pengusaha  serta
              serikat pekerja atau serikat buruh dapat menunjang kerja-kerja Pengawas Ketenagakerjaan.


              4. Mendesak Pemprov Jatim untuk mengoptimalisasi kepesertanaan jaminan sosial di Jatim.

              Masa akdi mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberikan sanksi administratif
              tidak  mendapatkan  pelayanan  publik  tertentu  (TMP2T) kepada perusahaan-perusahaan  yang
              belum mendaftarkan pekerjanya kepada BPJS Kesehatan dan atau BPJS Ketenagakerjaan.


              "Selain itu dalam rangka melaksanakan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2021 tentang Optimalisasi
              Pelaksanaan  Program  Jaminan  Sosial Ketenagakerjaan,  dengan  ini  kami  mendesak  Gubernur
              Jawa  Timur  agar  Membuat  Peraturan  Gubernur  Jawa  Timur  yang  mempersyaratkan  kepada
              Pemberi Kerja (Perusahaan) agar pada saat akan mendapatkan pelayanan publik tertentu, wajib
              melengkapi bukti kepesertaan BPJS Kesehatan dan atau BPJS Ketenagakerjaan," ujar Jazuli 5.
              Mendesak Pemprov Jatim untuk membuka Posko Pengaduan THR (Tunjangan Hari Raya) Tahun
              2021 Sebelumnya Menteri Ketenagakerjaan RI telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor:
              M/6/HK.04/IV/2021  yang  menegaskan  bahwa  THR  tahun  2021  tidak  boleh  dicicil  dan  harus
              dibayarkan tepat waktu yaitu 7 (tujuh) hari sebelum hari raya keagamaan.

              Untuk  memastikan  pelaksanaan  pembayar  THR  di  Jawa  Timur  sesuai  dengan  peraturan
              perundang-undanan, dengan ini kami mendesak agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka
              Posko  Pengaduan  Pembayaran  THR  serta  memberikan  sanksi  kepada  Pengusaha  yang  tidak
              membayarkan THR pekerja atau buruhnya.

              Itulah lima poin tuntutan buruh saat menggelar aksi menolak Omnibus Law di depan kantor
              DPRD Jatim hari ini.(*).


                                                           202
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208