Page 398 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 398

PENGUSAHA WAJIB BAYAR THR, APINDO KALTIM: KALAU MAMPU HARUS
              DIBAYARKAN

              Bisnis.com,  BALIKPAPAN--Apindo  Kalimantan  Timur  mendorong  pengusaha  yang  memiliki
              kemampuan  finansial  yang  kuat  untuk  membayarkan  tunjangan  hari  raya  (THR)  kepada
              karyawannya.

              Ketua  Dewan  Pengurus  Provinsi  Apindo  Kaltim  M.  Slamet  Brotosiswoyo  mengatakan  bahwa
              apabila perusahaan mampu, maka Apindo mewajibkan perusahaan untuk membayarkan THR
              kepada karyawannya. Menurutnya, ada beberapa sektor usaha di Kalimantan Timur yang saat
              ini sedang dalam kondisi yang baik.

              "Misalnya batu bara dan kesehatan mungkin bisa membayar penuh. Kondisinya saat ini sedang
              bagus," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (21/4/2021).

              Kendati demikian, dia menyebutkan kondisi ini tidak bisa disamaratakan karena ada sektor lain
              yang  masih  belum  bangkit  akibat  terpaan  pandemi.  Dia  mencontohkan  sektor  hotel  dan
              pariwisata yang masih harus berjuang karena kondisi yang belum membaik.

              "Apalagi ada larangan mudik, tambah lagi tekanannya. Jadi, kalau sampai tutup saja tidak sampai
              mem-PHK, itu sudah bagus," tuturnya.

              Karena itu, bagi perusahaan yang tidak mampu membayarkan THR karyawannya secara penuh,
              Slamet mengimbau agar melakukan kesepakatan bipartit dengan karyawannya.

              Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menerbitkan Surat Edaran (SE)
              Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan
              Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Pembayaran  THR  Keagamaan  diberikan  kepada  pekerja/buruh  yang  telah  mempunyai  masa
              kerja  satu  bulan  secara  terus  menerus  atau  lebih.  THR  Keagamaan  juga  diberikan  kepada
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  hubungan  kerja  dengan  pengusaha  berdasarkan  perjanjian
              kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.

              Bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, THR
              diberikan dengan ketentuan sebesar 1 bulan upah. Sementara bagi pekerja/buruh yang telah
              mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus, tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan
              secara proporsional sesuai dengan perhitungan masa kerja dibagi 12 bulan kemudian dikali 1
              bulan upah.


              Adapun  bagi  pekerja/buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian  yang  telah
              mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah
              yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.

              Sedangkan bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah 1
              bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.


              Surat Edaran tersebut juga mendorong kepala daerah memberikan solusi bagi perusahaan yang
              terdampak pandemic sehingga tidak mempu memberikan THR.



                                                           397
   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403