Page 490 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 AGUSTUS 2021
P. 490
Ringkasan
Sejumlah TKA China di Morosi, Konawe, Sultra, diduga menguliti buaya lalu memasaknya
menjadi sop. Organisasi pembela satwa liar, Garda Anamilia, meminta aparat menindak secara
serius dan pelaku diberi hukuman yang maksimal. Koordinator Hukum dan Advokasi Garda
Animalia, Ratna Surya, mengatakan kejahatan terhadap satwa liar bukan lagi sebuah kejahatan
biasa. Sebab, kejahatan ini masuk sebagai kejahatan terbesar ketiga di Indonesia setelah
perdagangan narkoba dan perdagangan manusia.
APARAT DIMINTA TEGAS TINDAK TKA CHINA YANG KULITI BUAYA DAN BERI
SANKSI MAKSIMAL
Sejumlah TKA China di Morosi, Konawe, Sultra, diduga menguliti buaya lalu memasaknya
menjadi sop. Organisasi pembela satwa liar, Garda Anamilia, meminta aparat menindak secara
serius dan pelaku diberi hukuman yang maksimal.
Koordinator Hukum dan Advokasi Garda Animalia, Ratna Surya, mengatakan kejahatan terhadap
satwa liar bukan lagi sebuah kejahatan biasa. Sebab, kejahatan ini masuk sebagai kejahatan
terbesar ketiga di Indonesia setelah perdagangan narkoba dan perdagangan manusia.
"Kejahatan ini adalah kejahatan yang terorganisir dan melibatkan jaringan lintas negara. Maka
seharusnya dalam upaya-upaya pemberantasannya tidak bisa dilakukan dengan cara yang
biasa," ujar Ratna kepada kumparan, Jumat (27/8).
Meski kasus ini melibatkan warga asing, tambah Ratna, aparat seharusnya menindak sesuai
dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
Ia mengatakan kejahatan terhadap satwa itu termuat dalam Pasal 21 Ayat 2 UU No. 9 Tahun
1990 tentang Konservasi Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
"Dan bagi pelakunya diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling
banyak Rp 100.000.000," imbuhnya.
"Itu sebabnya kejahatan semacam ini akan terus berulang. Maka dari itu menurut kami,
menerapkan sanksi maksimal menjadi salah satu solusi memutus rantai kejahatan terhadap
satwa liar," tegasnya.
Ratna menekankan kejadian pengulitan itu merupakan peringatan bagi penegak hukum untuk
secara serius menangani kejahatan satwa lira.
"Apalagi kasus ini bukan kasus pertama terjadi. Mulai dari kasus kematian gajah yang ditemukan
dalam keadaan hilang kepala di Aceh, tiga harimau mati sekaligus, kemudian nasib buaya yang
dikuliti dan dimasak. Aparat penegak hukum sudah seharusnya memandang kejahatan ini
sebagai kejahatan serius yang harus diprioritaskan untuk segera diselesaikan," pungkasnya.
Kepada kendarinesia.id, partner 1001, Kepala BKSDA Sultra Sakrianto Djawie mengatakan
petugas hanya menemukan serpihan tulang buaya yang telah ada di panci di lokasi. Serpihan itu
kemudian diuji. "Sisa-sisa dari olahan buaya untuk dijadikan santapan itu tak ada satu pun bukti
kuat yang ditemukan selain tulangnya saja," ungkap Sakrianto, pada Kamis (26/08).
Berdasarkan penelusuran, TKA asal China itu mendapatkan buaya dengan membeli dari warga.
"Pengakuan TKA mereka beli buaya itu ke masyarakat lokal, namun kita masih telusuri apakah
mereka itu tenaga kerja lokal atau masyarakat setempat. Jika terbukti, bisa-bisa yang menjual
terjerat hukum," jelasnya.
489

