Page 193 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 193

2021  di  antaranya  ritel,  jasa  keuangan  dan  perbankan,  konstruksi,  manufaktur,  migas,  alat
              kesehatan, serta industri makanan dan minuman.
              Beberapa  permasalahan  yang  diadukan  antara  lain  THR  tidak  dibayar  sama  sekali,  dibayar
              sebagian, dibayar bertahap dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, dibayar bukan dalam
              bentuk uang, serta perusahaan tidak mampu karena terdampak pandemi COVID-19.

              Sekretaris  Jenderal  (Sekjen)  Kemnaker  Anwar  Sanusi  mengatakan,  Kemnaker  mengerahkan
              pengawas  ketenagakerjaan  yang  berada  di  tingkat  pusat  dan  daerah  untuk  mengawasi
              pelaksanaan pembayaran THR tersebut.

              “Kita  langsung  menindaklanjuti  pengaduan  dalam  Posko  THR  secara  periodik,  kemudian
              langsung berkoordinasi dengan dinas-dinas ketenagakerjaan untuk memerintahkan pengawas
              ketenagakerjaan melakukan pemeriksaan pelaksanaan THR,” katanya.

              Ditjen  Binwasnaker  dan  K3  juga  telah  melakukan  koordinasi  dengan  seluruh  Kepala  Dinas
              Ketenagakerjaan, pengawas ketenagakerjaan, dan mediator di seluruh Indonesia melalui virtual
              untuk mengkoordinasikan langkah-langkah penegakan hukum pelaksanaan THR.

              Sekjen Kemnaker juga menyampaikan bahwa bagi perusahaan yang terdampak COVID-19 dan
              tidak mampu memenuhi pembayaran THR, didorong untuk melakukan dialog untuk pelaksanaan
              pembayaran THR keagamaan dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan.

              Lebih lanjut, Anwar mengingatkan kepada pengawas ketenagakerjaan di setiap provinsi, jika
              terdapat perusahaan yang tidak mampu membayarkan THR tujuh hari sebelum hari raya, maka
              harus  ada  kesepakatan  tertulis  bipartit  antara  pengusaha  dan  pekerja  untuk  jangka  waktu
              pembayarannya.

              Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis dan harus didukung dengan bukti laporan keuangan
              dua  tahun  terakhir  dan  memuat  waktu  pembayaran  THR  keagamaan  dengan  syarat  paling
              lambat dibayar sehari (H-1) sebelum Hari Raya.

              “Dalam  hal  THR  keagamaan  tidak  dibayar  sesuai  kesepakatan  dan/atau  kesepakatan
              pembayaran THR di bawah ketentuan perundang-undangan, maka pengawas akan melakukan
              pengawasan  pelaksanaan  pembayaran  THR,  berupa  nota  pemeriksaan  sampai  dengan
              rekomendasi  kepada  pejabat  berwenang  pada  kementerian/lembaga  atau  daerah  setempat
              untuk pengenaan sanksi administratifnya,” ujarnya.

              Anwar juga mengingatkan bahwa terdapat denda bagi pengusaha yang terlambat membayar
              THR keagamaan sebesar lima persen dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas
              waktu kewajiban pengusaha untuk membayar.

              Pengusaha yang tidak membayar THR dalam waktu yang ditentukan juga dapat dikenakan sanksi
              administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sanksi tersebut dapat berupa
              teguran tertulis, pembatasan kegiatan usaha, penghentian sementara sebagian atau seluruh alat
              produksi, serta pembekuan kegiatan usaha.















                                                           192
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198